Rabu, 20 Januari 2010

KONSEP DIRI

The Power Of Me..

Orang bisa berkembang tanpa adanya hal disekelilingnya , ia bekerja tanpa adanya uang, tanpa adanya teman yang membantu, tanpa adanya keluarga yang mendukung, tanpa bersekolah. Kita mesti yakin bahwa orang seperti itu, ADA!!

Misal, banyak orang miskin atau tanpa menggunakan uang mereka bisa membuat sesuatu yang mengubah hidup mereka, membuat permainan anak-anak atau hal besar lainnya. Atau ada orang berstatus yatim piatu, tapi mereka bisa sukses. Atau bahkan ada orang yang dari lahir hingga umurnya 30 tahun belum pernah punya pacara atau belum beristri, tapi dia bisa berkembang malah mungkin sebagaian orang bisa menjadi seorang milyader… atau juga bahkan, ada orang yang yatim piatu, tidak punya uang, tidak punya teman, tidak punya pacar, malah hidupnya penuh denngan kesuksesan, jadi oang yang kaya raya, jadi orang yang sering dicari karena kesuksesannya. Nah, bagi siapa saja yang biosa berkembang, sukses tanpa hal-hal tersebut itu adalah orang yang memiliki pikiran akal yang hebat. Karena untuk menjadi orang tersebut harus menjadi orang yang Ulet, kreatif, disiplin, focus, sabar, dan sifat baik lainnya.. bisa??????

Bagi kita yang masih suka main, masih suka nonton bioskop, masih mau jalan-jalan, ‘menikmati hidup’ kalau kata orang kebanyakan mah… akhirnya hampir tidak bisa lepas dari hal-hal itu. Maka dari itu, kita harus membuat komitmen dulu dalam diri kita, diantara komitmen itu adalah sebagai berikut (bahasanya kaya makalah… he he):

1. jangan pernah berkata TAPI (yang membuat kita DOWN)ketika kita meyakini sebuah kebenaran. MISAL,

2. jangan terlalu banyak mengeluh(ketika mengeluh lanjutkan dengan kata TAPI yang membuat kita bangun kembali)

3. jangan jadi orang yang selalu membubadzirkan sesuatu

4. harus tidak punya musuh/harus menjaga silaturahmi

nanti dilanjut lagi soal komitmen atau kalian bisa tambahkan sendiri yang penting komitmen itu harus bertujuan membangun diri kalian… (maklum….)

kita lanjut dengan potensi disekeliling kita yang jangan pernah anda sia-siakan dan jangan pernah anda lupakan yaitu titik dua(hehe..sekarang bahasa telegram)titik

1. keluarga

Jangan pernah anda lupakan keluarga anda, ketika anda berada dimanapun, sedang apapun. Karena pada saat diri kalian rapuh, jatuh, atau disaat semua oranngtidak menerima keberadaan kalian, yakinlah bahwa masih ada yang mendo’akan kalian tak lain keluarga. Maka saya menghimbau kepada diri kita semua untuk selalu baik terhadap keluarga kita, khususnya ibu dan ayah. (Pertanyaan dibawah ini boleh dijawa, boleh di pandang saja, atau boleh dibawa pulang, serta dikirim ke facebook teman-teman anda….)

· Pernah kalian meminta maaf setulus hati pada kedua orang tua?

· Pernah kalian ingat kedua orang tua kalian saat makan enak di kantin atau di restoran?

· Berapa kali anda pernah mencium kaki ibu anda?(mudah-mudahan bisa dijawab)

Artinya kita harus menjadikan keluarga adalah dasar semangat kita selain dari materi atau modal yang keluarga beri buat kita. Minimal jadikan spirit, roh dalam gerak kita. Setuju??? (kalo setuju ga usah pake kata “tapi” lagi ya…)

2. Pacar

Berbahagialah orang yang bisa lepas dari masalah cinta ke lawan jenis kita. Ada sebuah kata bijak yang mengatakan “jangan pernah mencintai jikalau anda takut sakit hati”. Sebenarnya masalahnyaa adalah bukan punya atau tidak punya pacar tapi bagaimana anda mengelola hati. Jurusan Adpend ini justru telah banyak mengajarkan kita tentang mengelola hati missal, ada manajemen konflik, atau fungsi manajemen atau juga anda bisa gunakan ilmu filsafat pendidikan…hehehe semoga anda tidak jadi gila dengan cinta.

Baiklah, tarik nafaaaaasssss……pejamkan mata, keluarkan dengan hati bicara “Saya Tak Akan Pernah Sakit Hati!!” ada sebuah kata bijak juga yang mengatakan “Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: aku turut bahagia untukmu”…nah, sudahlah tekadkan dalam diri kita stop mengemis cinta karena “aku bukan pengemis cinta….”(lagu dangdut). Jadikan keberadaan pacar menjadi sumber semangat kita juga, bukan malah menjadi sumber yang menghilangkan uang kita, jadikan keberdaan mereka berguna dihati anda, jadikan Dia menjadi orang yang memberi anda dukungan.

Satu hal lagi yang sangat penting, hal ini menggambarkan bahwa anda sudah dewasa atau anda masih anak-anak. Yaitu jangan pernah menjadikan mantan pacar anda sebagai musuh inget itu jangan menjadikan mereka menjadi orang yang anda benci seumur hidup anda. Coba anda bayangkan jika anda bertemu mantan anda yang sampai saat ini anda benci tiap ketemu anda harus memasang wajah musam atau wajah sayur asem dicampur sambel mangga muda…cape kan???apa ada gunanya membenci mantan anda?ingat komitmen kita “kita harus menjaga silaturahmi/harus tidak punya musuh”. Setuju ga, bahwa silaturahmi itu membawa banyak rezeki??(kalo setuju, jangan pernah diteruskan kata TAPI!!oh..masih ingat ya..bagus-bagus!!).karena kita tak tahu mantan kita akan menjadi seorang yang bagaimana setahun kedepan, mungkin saja jadi orang yang sangat hebat, menjadi ilmuan, atau orang kaya raya atau pemilik restoran dll, kan kalo kita ga musuhan kita masih bisa CLBK…. Ha ha ha, setuju?

3.Harta or Uang

Bagi sebagian orang yang memang bermodal, banyak uangnya berbahagialah….tapi juga bagi yang tidak punya uang jangan pernah kwatir, karena point yang ini sebenarnya harus kita lupakan. Orang yang banyak hartanya atau yang diberi modal orang tuanya juga mungkin mereka tidak bisa menggunakan uang tersebut. Jadi persoalan dalam point ini adalah bagaimana mengelola uang/asset harta yang kita miliki. Yakinlah bahwa kekreatifan iu lebih mahal dibanding kepraktisan kita dalam membeli sesuatu..berapa orang kreatif yang telah diberi gaji besar, atau bahkan penghargaan.jika anda punya uang Rp5.000 jangan dulu dihabiskan, berpikirlah, apa yang harus anda lakukan atau apa yang harus anda beli yang benar-benar penting buat anda. Kalau saran saya untuk hal ini jadikan diri anda menjadi orang yang menyukai hal-hal yang bermanfaat “MULTIFUNGSI”, sehingga saat anda menggunakan uang tersebut anda bisa merasakan bukan hanya satu manfaat, anda bisa merasakan dua atau lebih manfaat yang dirasakan.ok setuju?(kalo ga sejutu… sms-sms ya…)

4.Teman

Ini lah yang sebenarnya menjadi kekuatan yang sering kita lupakan, anda masih ingat teman TK, SD, SMP, SMA atau bahkan teman kuliah anda?masih?? kita tetap komitmen dalam menjaga silaturahmi, jika masih ingat hubungi mereka, tanyakan kabar mereka, bagaimana sekaranng mereka, hal yang harus anda tanamkan dalam diri anda adalah “saya akan bermanfaat bagi teman-teman saya, saya kan membawa mereka sukses”, hal itu jangan berharap bahwa anda yang akan dibawa sukses oleh teman-teman anda. Anda kenal istilah networking atau link?itu yang harus anda cari sebanyak-banyaknya, karena harta, pacar dan mungkin ketika keluarga sudah tidak mendukung, temanlah yang akan and agunakan sebagai satu-satunya potensi anda. Dan juga carilah sebanyak-banyaknya teman baru(yang baik tapi ya…)Ketika anda berjalan di sebuah jalanan yang sepanjang jalan itu berisi warung-warung atau usaha-usaha berbagai macam usaha, berapa persen pedagang sepanjang jalan itu yang anda kenal???anda kenal dengan pemilik warteg?pemilik warung kelontong?tukang cireng isi?warnet?counter pulsa?game online?perusahan-perusahaan?.

Dari hari ini kita bergerak untuk mengingat mereka, untuk menjaga silaturahmi kita, untuk mendapat teman baru, katakana saja “hai…”dan tersenyumlah….dan jangan lupakan teman anda bawa mereka sukses bersama anda.yakinlah bahwa anda sangat dibutuhkan teman anda. Inget “nggak ada loe nggak rame…”

M. Ramlan Afrizal

Selasa, 19 Januari 2010

Naskah Drama

Kapan BAYIku Lahir...? 
Karya : Muhammad Ramlan Afrizal 
Dibuat : Juni 2008

PARA PEMAIN : 
1. KAKEK/ PAK AHMAD : Kuli Angkut Barang Stasiun/60 Thn
2. NENEK : Jasa Pencuci Pakaian / 55 Thn
3. MBA YAYU : Tukang Jamu / 30 Thn
4. MAFIA 1 : Pengedar Narkoba Dan Uang Palsu/ 28 Thn
5. MAFIA 2 : Pengedar Narkoba Dan Uang Palsu/ 26 Thn
6. POLISI 1 : Perwira Polisi / 40 Thn
7. POLISI 2 : Asisten Perwira Polisi / 25 Thn
8. BIDAN : BIDAN Komplek / 35 Thn

SINOPSIS
Kisah ini merupakan sebuah drama ber setting ruang tamu dan kamar tidur. Suami istri yang sudah lanjut usia. Diusia yang setengah abad sang istri baru bisa mengandung setelah perkawinan itu berumur 33 tahun. Semua orang pun memanggilnya NENEK dan KAKEK. sepasang suami istri yang baru pertamakali bahagia Karena kehamilan sang istri ditengah usia yang renta. KAKEK seorang kuli angkut pernah dititipi tas hitam oleh dua orang distasiun. Satu orangdiantaranya, mengambil tas itu setelah beberapa hari di rumah si KAKEK. Namun setelah itu polisi datang dan menangkap si KAKEK karena dituduh bersekongkol, dengan dua orang yang menitipkan tas hitam itu, dan ternyata dua orang hitam itu adalah MAFIA pengedar narkoba dan uang palsu. Ditengah keributan itu, si NENEK pun ribut karena dia akan melahikan sang BAYI dengan batuan BIDAN. Si KAKEK dibawa keluar oleh POLISI dan si NENEK melahirkan tanpa si KAKEK. Padahal si KAKEK menunggu kelahiran si BAYI.

BABAK I
LAMPU MULAI MENYALA PADA KAMAR TIDUR
(RUANG TAMU BELUM MENYALA)

PEMAIN : KAKEK DAN NENEK 

Dikamar sepasang suami istri tua renta sedang menikmati masa bahiagianya, sang suami asik mengelus perut sang Istri

KAKEK : 
NEK, sepertinya impian kita selama ini sebentar lagi bisa terkabul. Oh, Tuhan rupanya kali ini mendengar do’aku, sepertinya aku memang harus serius dengan semua do’a ku yang kupanjatkan pada-Nya
NENEK : 
(masih diam karena sedang membaca Al-Qur’an)
KAKEK : 
NEK..kamu nggak dengar omonganku ya..
NENEK : 
dengar, iya makanya kamu jangan berdo’a untuk kemenangan togel yang sering kau pasang itu. Kali ini kau harusnya sering-sering dimesjid, kamu shalat lalu berdo’a untuk kelahirannya nanti.
KAKEK:
Ah, aku kan sudah berhenti memasang togel itu semenjak usia kandunganmu delapan bulan alias satu bulan yang lalu. 
NENEK :
Mungkin itu hikmah dari taubatmu..(lalu Ia melanjutkan bacaannya)
KAKEK :
Hikmah, mungkin saja, iya itu hikmah, artinya aku termasuk orang yang dikasihani oleh Tuhan. Oh…(berteriak bahagia)
NENEK: 
Sstt… kan aku sedang menidurkan dia dengan ini (sambil menunjukan Al Qur’an nya)
KAKEK : 
Ups maaf... tidur yah..jagooo..

NENEK masih melanjutkan bacaannya, beberapa saat kemudian dalam bacaannya sesekali Ia batuk

KAKEK : 
sudah aku bilang agar kamu jangan terlalu capek dirumah, apalagi kamu harus banyak memcuci pakaian orang, biar aku saja yang mencari uang. Oh ya satu lagi mulai besok akan kuhentikan kegiatan mencucimu itu.
NENEK : 
kau kan tahu sendiri KEK, mana cukup uang hasil buruh angkutmu. Tak setiap hari kan kau membawa uang, kau tahu sendiri hal itu. lagi pula sedikit sekali orang yang turun di stasiun ini. Kecuali orang-orang kampung sini yang pulang pergi. Dan kau hanya menunggu penumpang kereta yang barang bawaannya banyak, kalau tak banyak.. 
KAKEK : 
(memotong) ya nggak bawa uang…, sudah seratus kali lebih kau berkata seperti itu, dan aku hafal yang akan kau ucapkan selanjutnya, pasti kau bilang bahwa aku harus..

NENEK : 
(memotong) cari kerjaan baru.... apa kau tak bosan jadi kuli angkut stasiun?sudah bertaun-taun kau jadi kuli dan punggungmu sudah di buat bungkuk oleh pekerjaanmu itu. lalu tas yang kau bawa dari stasiun itu pemiliknya belum mengambilnya juga, apa tas itu aman, kita nggak tahu apa isinya. Sebaiknya kau periksa dulu sana..
KAKEK : 
Aku memang tidak tahu dan aku tak pernah membuka barang yang bukan hak ku sendiri. Begini juga, aku adalah orang yang proseksual..
NENEK :
Profesional maksudmu..
KAKEK :
Iya maksudku itu.. aku belum pernah membuka hak orang lain, aku tak peduli dengan isi ya situ yang penting jika orang itu mengmbilnya ia harus membayar OIT alias Ongkos Inap Tas. Tapi aku juga bingung, orang itu menitipkan padaku lalu dia pergi begitu saja, mau ku kejar orang itu, dia malah lari kencang bagi dikejar anjing saja, (tersenyum)kau tahu sendiri umurku ini, kalau dua puluh tahun kebelakang aku berani adu lari dengan si Yadi atlit lari anak pak lurah itu.
NENEK : 
alah kau itu banyak di kata sedikit diperbuatan. sudah aku mau menyelesaikan bacaanku tinggal sedikit lagi. 

Keduanya terlihat sangat romantis, KAKEK berbaring tepat disamping perut NENEK, tak henti ia mengelus perut NENEK.
KAKEK :
illahilas tulilfirdaus..si ah..la...wala aqwa alannarri jahimi.. eh jago liat tuh Ibumu, dia itu pencuci pakain orang, ibumu itu seorang pengusaha... pengusaha...londri..ya itu. Tanpa ibumu, semua orang dikampung ini akan terkena penyakit kotor. Beginilah keadaannya, daerah masih kampung tapi warganya sudah berpikir kota, inginnya serba praktis sepertinya tangan mereka digunakan hanya untuk makan dan cebok saja. Hey JAGO, kalau sudah besar kamu harus memiliki perusahaan londri terbesar dikampung kita, bukan, di negara kita, bukan-bukan-bukan, di duniaaa... Dengan pusat londri laut selatan.
NENEK : 
(tersenyum) sepertinya bapakmu ini sudah gila (melanjutkan bacaannya)
KAKEK : 
stt...jangan berisik sepertinya dia sudah tidur. Ya kan YAYU. Ups ..
NENEK : 
YAYU, YAYU, sudah aku bilang kau harus jauh-jauh dari siYAYU pedagang jamu itu. (si NENEK berhenti membaca Al-Qur’an lalu mneyimpannya di meja dekat kasur lalu menyingkirkan si KAKEK dan menutup dirinya dengan selimut)
KAKEK : 
ya..ya..yah…maksud aku…(diam sejenak, NENEK menutup dirinya dengan selimut)sudah malam ya mending kita tidur saja..(KAKEK memeluk NENEK, tapi NENEK malah berbalik)

LAMPU PADAM



BABAK II
LAMPU RUANG TAMU MENYALA
(LAMPU KAMAR TIDUR PADAM)

PEMAIN : KAKEK, NENEK, MBA YAYU, BIDAN, MAFIA 1, MAFIA 2, POLISI 1, Dan POLISI 2

Hari masih pagi, suara kokokan ayam dan kicauan burung terdengar jelas lalu terdengar seorang tukang jamu menawarkan dagangannya

OS YAYU : 
jamu…. Jamu,,,,, yu huuu..Jamu…SERBU, serba dua ribu..jamu..
KAKEK : 
(keluar dari pintu kamar) si YAYU… 
OS YAYU : 
yu huu..SERBU serba dua ribu.. tanpa bahan pengawet dan formalin
KAKEK : 
(mengintip dari jendela lalu memanggil MBA YAYU seperti berbisik)MBA, MBA YAYU sini, cepat..masuk tapi jangan terlalu dalam ya.. 
MBA YAYU : 
disuruh masuk tapi jangan kedalam..
KAKEK : 
Eu..bagian dalam baru di pel jadi masih basah (memperhatikan tubuh si MBA YAYU)
MBA YAYU : 
(sambil mempersiapkan jamu) oh.. ya sudah ini jamunya, STMJ kan.
KAKEK : 
(mengambil jamu itu)kau tau saja kesukaanku, Susu-tekan, (diam sejenak) maksudku susu-telor-madu dan jahe. Bener nih.. tanpa bahan pengawet dan formalin(MBA YAYU hanya menganggukan kepalanya dan mengacungkan jempol. KAKEK meminum jamu itu dengan sekali teguk) ahh...hangat...dibadan (menggoyangkan badan), segerrr.. 

OS NENEK: 
(dari dapur) KEK.. KEK... kau dimana
KAKEK : 
(membereskan botol-botol jamu) iya NEK..sebentar. makasih ya MBA, sepertinya ada yang harus aku urus dulu (seperti berbisik), nanti kita sambung lagi. (KAKEK membereskan botol-botol jamu lalu memasukannya dengan cepat, lalu MBA YAYU pergi dengan didorong si KAKEK)
OS NENEK : 
KEK..
KAKEK : 
sebentar. (hampir menutup pintu NENEK keluar dari pintu dapur) jangan lupa Pak johar nanti malam kita bagian ronda, bawa kacang goreng yang banyak ya...
NENEK : 
siapa?kok..
KAKEK : 
(memotong)itu..pak Johar mau nyuci baju katanya, kubilang saja bahwa istriku sekarang ini tidak menerima cucian. 
NENEK : 
sepagi ini?
KAKEK :
iya (gugup) kenapa sepagi ini pak Johar datang.. 
NENEK : 
iya kenapa (curiga)?
KAKEK : 
iya, oh katanya siang ini pakaiannya mau dipakai lagi. Jadi dia datang sepagi ini
NENEK : 
(melihat keluar jendela) oh, itu...
KAKEK : 
(ikut melihat keluar jendela) iya itu plastik sampah sudah penuh.. biar kubuang dulu.
NENEK : 
dasar kau pintar mengelak, maksudku itutuh... si YAYU, tukang jamu yang genit itu.. (sambil menjewer telinga si KAKEK, lalu pergi kedapur ) sekarang bantu aku mengangkat nasi.

OS KAKEK : 
aw..panas.. 
OS NENEK: 
makanya hati-hati, pakai lap...nah begitu..
OS KAKEK:
wah kau masak banyak sekali
OS NENEK: 
banyak bagaimana, Cuma tempe goreng 4 biji, tahu 2 biji, ikan asin 1 ekor lalu sambel dan yang banyak itu daun singkongnya siabrek..
OS KAKEK: 
maksudku kan banyak jenisnya. (sambil makan dan kepanasan) 
OS NENEK: 
makannya pelan-pelan
MAFIA 1: 
permisi.. permisi (mengetuk pintu)
OS KAKEK: 
sebentar...(nasi masih dimulutnya, keluar masih mengelap tangan lalu membuka pintu) anda... anda... hitam.. (menunjuk pada mafia 1)
MAFIA 1: 
(melihat kulit tangannya lalu menatap si KAKEK dengan sinis)maksud mu?
KAKEK : 
bukan-bukan maksudku.. itu.. tas hitam(sedikit berteriak). Anda yang menitipkan tas itu kan. Mana satu lagi teman anda?
MAFIA 1: 
betul, sekarang kembalikan tasnya (seperti mengancam), dan jangan banyak tanya (sambil melihat kanan-kiri)
KAKEK : 
(bingung) sebentar-sebentar, tas, tas dimana ya (mencari dengan pikiran, lalu tangannya diacungkan seperti dapat sesuatu) oh iya dikamar.
MAFIA 1 : 
kalo begitu cepat ambil, lama amat kamu mikir
KAKEK : 
iya.. iya.. (berjalan menuju kamar) cerewet amat, cerewetnya mengalahkan istri ku tuh. (keluar lagi membawa tas itu)nah ini kan tasnya (mengacungkan tas)
MAFIA 1 : 
iya-iya itu (tersenyum, lalu dengan segera hampir merebut tas itu) 
KAKEK : 
tunggu dulu.. disini sudah lima hari, lima hari kali biaya per harinya lima ribu jadi lima kali lima ribu... jadi...jadi..jadi bingung...
MAFIA 1: 
(merogoh uang dan memotong pembicaraan si KAKEK) iya ni..
(menyerahkan uang ratusan ribu)
KAKEK : 
hah..(kaget memegang uang banyak, lalu menghitungnya pelan-pelan) ini uang tuan?
MAFIA 1: 
(membuka tas dan mengintip isi didalamnya)mana-mana.. nah masih ada 
KAKEK : 
masih komlit, bahkan aku belum pernah membukanya..
MAFIA 1: 
bagus kalau begitu, ok. Saya pergi dulu, senang berbisnis dengan anda (bersalaman)
KAKEK : 
oh..tentu saja aku pun sangat senang sekali berbisnis dengan anda, lain kali anda boleh titip apapun disini. Tentunya dengan tarif disesuaikan. (lalu menutup pintu dan mengulang menghitung uang) NEK... kau bisa melahirkan si jago di BIDAN, jangan panggil dukun beranak atau sejenisnya. Akan kupangilkan BIDAN terbaik komplek sebelah. 
NENEK : 
(keluar dari dapur)ada apa?siapa yang tadi? Nampaknya kau senang betul!(lalu curiga melihat keluar jendela)
KAKEK : 
bukan, bukan si YAYU, kali ini yang datang si pemberi rizki..
NENEK : 
Hus, yang memberi rizki itu TUHAN
KAKEK : 
ya maksudku TUHAN telah menitipkan rizki kepada yang menitipkan padaku
NENEK : 
gimana maksudmu, perkataanmu itu memutar-mutar, menitipkan-dititipkan, maksudmu ada yang bayar Zakat, bilang bukan disini tempat bayar Zakat, disana tu, di Mesjid atau l;angsung ke rumah Ustadz. 
KAKEK : 
Eh.. malah nyambung ke Zakat. maksudku, orang yang menitipkan tas padaku datang dan memberiku uang (sambil menunjukan uang) lihat segini banyaknya.. 
NENEK : 
wah..OIT nya banyak sekali..
KAKEK:
OIT...(menerawang)oh ya..ya, Ongkos Inap Tas
NENEK :
kau harus membeli mesin cuci ke kota, perbaiki atap dapur dan kamar, sehingga saat kau tidur, hujan tak menembus dan mengganggu tidurmu
KAKEK : 
tunggu dulu sebentar... kau kan sebentar lagi melahirkan, kita urus dulu itu.. baru setelah itu kita pikirkan yang lain. Jadi biar kupanggil BIDAN sekarang
NENEK : 
hehh..kau mau memaksaku agar anakmu keluar belum saatnya
KAKEK : 
tapi kan kandunganmu itu sudah berumur sembilan bulan. 
NENEK :
iya tapi kan aku belum merasakan apa-apa. 
KAKEK : 
ah ribet amat.. aku sudah tak tahan lagi NEK.. jadi kapan BAYIku itu akan keluar dari perutmu, hey JAGO kapan kau akan lahir..(menunjuk pada perut NENEK)
NENEK : 
Sabar dong ne.. (tiba-tiba merasakan sesuatu) nah..nah.. sakit sekali aduh duh..(memegang perut dan memegang si KAKEK)
KAKEK : 
nah BAYI itu mendengarkanku, ini pasti hikmah lagi dari Tuhan lagi karena aku tak membuka tas yang bukan hak ku. tenang JAGO, BIDAN segera datang untukmu..(berbicara pada perut NENEK, lalu hendak pergi keluar rumah)
NENEK : 
tunggu dulu, bawa aku kedalam kamar dulu 
KAKEK : 
oh iya, sampai lupa, mari ku bawa kau ke kamar istriku.. 

LAMPU KAMAR MULAI DINYALAKAN 

NENEK : 
aduh.. sakit...sekali..cepat kamu panggil BIDAN yang kamu bicarakan itu. 
KAKEK :
baik-baik, (keluar dengan berlari, keluar pintu dari kejauhan dia lihat MBA YAYU)MBA ...kesini sebentar cepat..
MBA YAYU: 
ono opo to? Sepertinya buru-buru amat..
KAKEK : 
tolong jaga istriku kelihatannya dia mau mengeluarkan, maksudku melahirkan, tolong ya (lalu pergi dan memanggil ojek) 
MBA YAYU: 
lha KEK aku kan sedang berjualan, gimana ini.. 
NENEK : 
aduh... cepat BIDAN nya
MBA YAYU: 
aduh. Tenang NEK
NENEK : 
NENEK-NENEK emang saya NENEK mu 
MBA YAYU: 
lebih baik NENEK tenang dulu, sebentar lagi BIDANnya juga datang. Sekarang NENEK tarik nafas… 
NENEK : 
kamu itu gimana, ya sudah tentu aku akan menarik nafas, kalau aku tidak bernafas aku akan mati…
MBA YAYU: 
aku juga dulu pernah melahirkan NEK, dan maksudku NENEK harus mengatur nafas agar ngedennya nggak terlalu berat.
NENEK : 
ya sudah, ulangi lagi.. 
MBA YAYU: 
tarik nafas.. keluarkan pelan – pelan... bagus... (mengendus seperti mencium sesuatu) NEK, NENEK kentut ya.. 
NENEK : 
sedikit habis nggak tahan... aduh .. aduhh. Ah... aaah... huuuhh..huhhh.. 
MBA YAYU: 
aduh jangan dulu keluar, aku bingung kalau BAYI NENEK keluar sekarang.. oh ya, air kita butuh air.. air..air dimana airnya NEK
NENEK : 
aduuuhh…ya di kamar mandi, kalau air panas, di dapur. 
MBA YAYU: 
ya sudah NENEK tunggu dulu, aku ambilkan air panas dulu.. 
NENEK : 
huuuuhhh..huhhh.. cepetttt... (lalau MBA Keluar dari kamar menuju dapur)
MBA YAYU: 
(masuk kekamar sambil membawa termos) 
NENEK :
aaa... kamu mau menyiramku dengan termos itu ya.. 

MBA YAYU: 
oh iya, aku lupa tempatnya..(lalu kembali kedapur membawa termos)
POLISI 1: 
permisi.. permisi.. (mengetuk dengan keras sementara itu si NENEK berteriak dengan keras pula, POLISI lalu masuk dan mengacungkan pistolnya) jangan bergerak (MBA YAYU yang baru keluar dari dapur langsung ditodong POLISI, air panas yang dibawa memakai wadah jatuh mengenai kakinya)
MBA YAYU: 
aduuuhh... panas.. 
POLISI 2: 
kamu juga jangan bergerak, diam ditempat (berbicara pada MAFIA 2) 
NENEK : 
aduuuhh... siapa diluar … 
POLISI 1: 
jangan bergerak.. (langsung masuk ke kamar)
NENEK : 
ah... (terkejut karena ada laki-laki masuk kamar)
MBA YAYU: 
dia sedang melahirkan pak.. sebaiknya bapak keluar dari kamar itu..
POLISI 1: 
astagfirullah.. maaf, maaf, silahkan anda melanjutkan pekerjaan anda
MBA YAYU: 
Baik baik pak.. 
POLISI 2: 
bagaimana ini, kenapa kita malah jadi penjaga orang yang melahirkan begini.. heh.. betul kamu ingat bahwa kamu menitipkan tas itu kepada orang yang bernama AHMAD
MAPIA 2: 
be..be..betul, be..berapa ha..ri yang lalu a..aku mengeceknya..dan. daan ini adalah.. rumahnya.. 
NENEK : 
sebaiknya kau tanya mau apa POLISI itu datang kemari?
MBA YAYU: 
aku takut NEK... tadi aku ditodong pistolnya.. 
NENEK : 
cepat kau tanya.. aku tak bisa konsentrasi melahirkan kalau masih ada POLISI- POLISI itu
MBA YAYU: 
baik-baik.. aduhh bagaimana ini (keluar dari kamar, lalu berlari menuju dapur dan sedikit mengintip)
POLISI 2: 
jangan takut nona, kami tak akan berbuat apa-apa sama kamu, kami hanya ingin menanyakan sesuatu.
MBA YAYU: 
silahkan tanya saja dan setelah itu cepat pergi.. (ketakutan)
POLISI 1 : 
baiklah. 
PILISI 1 dan 2: 
dimana... (bareng)
POLISI 2: 
ya sudah bapak saja yang menanyakan
POLISI 1: 
bagus sadar pangkat.. begini nona kami kesini mencari orang yang bernama AHMAD, apa betul ini rumahnya?
MBA YAYU: 
AHMAD.. (lalu dia pergi ke kamar) NEK, dia mencari AHMAD.. apa NENEK tahu?
NENEK : 
AHMAD itu, suamiku, orang yang kalian kenal si KAKEK itu. 
MBA YAYU: 
oh si KAKEK (keluar dari kamar) 
POLISI 2 : 
bagaimana nona (menatap POLISI 1) maaf, silahkan lanjutkan pak.
POLISI 1: 
bagaimana nona betul ini rumah bapak AHMAD?
MBA YAYU: 
betul pak, namun tadi ia keluar, sedang memanggil BIDAN katanya, sebentar lagi mungkin dia akan datang
KAKEK : 
(langsung membuka pintu membawa BIDAN) ayo bu BIDAN cepat masuk.. istriku dikamar..
MBA YAYU: 
nah akhirnya datang juga.. 
POLISI 1: 
jangan bergerak.. 
KAKEK : 
(tersungkur dan tiaraf) ampun.. ampun ada apa ini? MBA kenapa banyak POLISI begini? 
BIDAN : 
ada apa ini pak? 
POLISI 2: 
bu BIDAN silahkan langsung ke kamar saja, tugas bu BIDAN ada disana..
POLISI 1: 
(memeriksa seluruh badan si KAKEK) apa ini dalam saku? Uang! (mengambil lalu menaruhnya di atas meja) 
KAKEK : 
ada apa ini? 
MBA YAYU: 
nggak tahu KEK, sebaiknya aku pergi dulu (MBA YAYU lalu pergi membawa barang bawaannya) 
POLISI 2: 
hey benar dia orang nya? (menunjuk pada si KAKEK) 
MAFIA 2: 
i..iya pak betul.. orang itu yang aku..
POLISI 2: 
ah sudah cukup.. 
KAKEK : 
hey, kamu.. kamu orang yang menitipkan tas hitam itu padaku iya kan. 
POLISI 1: 
ternyata benar anda bersekongkol dengan para pengedar Narkoba dan pengedar uang palsu. 
KAKEK : 
aku tak tahu maksud bapak-bapak POLISI ini. Hey item, ada apa ini, sebenarnya apa isi tas yang kau titipkan padaku itu. 
POLISI 1: 
isi tas itu sudah kubilang Narkoba dan yang kami tangkap ini adalah pengedar Narkoba dan uang palsu 
KAKEK : 
aduuh..kenapa jadi begini.. jadi gimana ini 
POLISI 1: 
sekarang mana tas itu?
KAKEK : 
tas itu sudah diambil oleh orang satu lagi. 
POLISI 1 : 
sekarang kemana dia? 
KAKEK : 
aku kira dia itu teman si hitam ini, tanyakan saja padannya.. aku betul-betul tidak mengerti kenapa aku harus ikut-ikutan
POLISI 1: 
tentu saja anda harus terlibat, Uang ini saya temukan di dalam saku baju anda, dan ini adalah uang palsu, jadi anda dituduh membantu para MAFIA ini menyembunyikan Narkoba dan mengedarkan uang palsu. 
KAKEK : 
jadi uang sebanyak itu, adalah uang palsu.. aduuh..bagaimana aku membayar BIDAN itu.. 
NENEK : 
aduuh..ah... 
KAKEK : 
tunggu dulu pak, istriku akan melahirkan, sebaiknya berikan kesempatan padaku untuk berada disamping istriku yang sedang melahirkan.
POLISI 1: 
tidak ada waktu lagi, kami harus mengejar MAFIA satu lagi.. 
KAKEK : 
saya mohon, ini kali pertama istriku mau melahirkan.
NENEK : 
aduh.. KEK... 
BIDAN : 
sebaiknya anda cepat kesini dan membantu istri anda melahirkan (menunjuk si KAKEK) 
POLISI 1: 
tidak bisa dia harus tetap ikut kami, hey ajudan kamu saja yang membantunya melahirkan
BIDAN: 
tidak bisa pak dia kan bukan suaminya (lalu masuk kembali) 
POLISI 2: 
iya saya tak bisa pak, siapa yang akan menjaga si item ini. Kalau saya menjaga orang yang sedang melahirkan, lagi pula aku belum berpengalaman menjaga orang yang melahirkan. Lagi pula aku belum beristri. Lebih baik aku menjaga penjara saja pak. 
POLISI 1: 
ya sudah lebih baik kita cepat pergi, takut kalau-kalau MAFIA satu lagi sudah kabur keluar negeri. 
KAKEK : 
aduh, aku betul-betul tak bersalah pak, aku hanya petugas pengangkut barang bawaan orang, alias kuli angkut stasiun. Setidaknya berikan kesempatan padaku untuk bisa menunggu sampai BAYI ku lahir, aku benar-benar menunggu kelahiran itu... bagaimana aku tahu kapan BAYI ku lahir kalau aku pergi dan tidak ada dirumah.
POLISI 1: 
ayo cepat ikut, kita pergi dari sini.. dan setelah dimobil cepat minta bantuan ke pusat..(bicara pada POLISI 2)
POLISI 2: 
siap laksanakan pak. (mereka pun keluar) 
KAKEK : 
aduh... NEK.. jago... bagaimana ini.. (lalu keluar, tidak berapa lama setelah itu lahirlah BAYI yanmg ditunggu-tunggu)
BIDAN : 
Alhamdulillah…
LAMPU PADAM
















BABAK III
LAMPU MULAI MENYALA

PEMAIN : KAKEK dan NENEK 

KAKEK : 
NEK..NEK…kau dimana.. aku pulang NEK.. 
NENEK: 
KAKEK.. aku dikamar.. (dengan suara tangisan BAYI)
KAKEK: 
akhirnya BAYIku.. kapan BAYIku lahir.. 
NENEK : 
ya kemarin, kau kemana saja? Tega, kau biarkan aku sendirian ngeden dengan tagihan biaya melahirkan pada BIDAN yang kau bawa itu. Dan sekarang tinggal kau bayar tagihan BIDAN itu. 
KAKEK: 
oh ganteng sekali mirip seperti bapaknya
NENEK: 
mirip bagaimana, hidungmu itu besar sedang dia kecil, alismu tebal sedang dia tipis, dan yang paling mencolok dia itu putih sedang kau, hitam.. 
KAKEK: 
ya setidaknya dia mirip manusia, seperti ku. 
NENEK: 
sialan kau, berarti kau sebut aku bukan manusia begitu.. 
KAKEK: 
sst..st..sepertinya dia sedang tidur.. 
NENEK: 
panggil dia JAGO.. biasanya kau memanggilnya begitu.. 
KAKEK: 
oh iya.. JAGO.. kau tidur yang nyenyak yach.. (KAKEK mulai sedih) NEk.. makasih yah.. kau telah mewujudkan impian ku selama ini, aku benar-benar bahagia.(diam sejenak) maafkan aku selama ini NEK, telah menyusahkanmu, kau harus mencuci pakaian untuk memenuhi sebagian kebutuhan kita. Terimakasih ya NEK.. dan aku mohon maafkan segala kesalahanku.. 
NENEK: 
sudahlah jangan kau seperti anak kecil begitu, tidak kah kau malu, pada si JAGO mu ini. 
KAKEK: 
aku janji mulai besok, aku akan mencari pekerjaan baru. Seminggu yang lalu pak johar menawariku pekerjaan. Semoga saja pekerjaan itu masih ada, dan kau jangan mencuci pakaian orang lain lagi. 
NENEK: 
iya, aku juga minta maaf, karena seminggu yang lalu aku masih menerima cucian orang lain, sehingga kau yang mencucinya.
KAKEK: 
sudahlah, aku ingin menidurimu.. 
NENEK: 
hah.. aku kan baru melahirkan, jadi anu, aku masih..(lalu mereka berdua tertawa... ) 
KAKEK : 
oh iya, aku lupa... ya sudah mari kita tidur saja. aku ingin sekali tidur disebelah si JAGO ini. (masih tertawa.) Akhirnya kau lahir juga JAGO.. ( si JAGO menangis)
LAMPU PADAM
SELESAI 


Bagi yang mau mementaskan naskah ini 
harap untuk menghubungi penulis terlebih dahulu
Cp : teater LAKON UPI Jln. SetiaBudhi No. 229 BANDUNG
www.kamuspelangi.blogspotcom
email : www.ramlan_afrizal@yahoo.co.id
Ket : 
a) Setting : 1 ruang tamu, 1 kamar, dan pintu kedapur, dinding sudah tembok
1. Ruang tamu: 1kursi panjang, 2 kursi biasa, 1 meja semua dari kayu dan menghadap penonton. Dinding di isi hiasan. Ada gantungan baju 
2. kamar tidur : 1 kasur, meja disampin kasur, dan damar di dinding kamar.
b) Lampu : 2 bagian, 1 ke kamar tidur dan 1 ke ruang tamu

CERPEN

Istrimu Cinta pertamaku  


Istrimu… 
Cinta Pertamaku….
Besok adalah hari pertama gue masuk kuliah, setelah menerima serangkaian acara Ospek kemaren yang gue ikuti dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, akhirnya gue lega banget kayaknya gue keluar dari jeratan-jeratan kepedihan neraka Jahanam. Tapi berpikir positif aja kali yach.., mungkin kaka tingkat itu sedang melatih kesabaran, seperti yang gue sebut tadi sedang melatih keberanian kita, jadi saat ospek tiba, para kaka tingkat berperan sebagai pelatih. Menurut orang nich..dunia mahasiswa itu adalah dunianya untuk kritis, ah bingung sich dengan kata itu, si kritis, padahal gue nggak tau sama sekali arti kata itu.
Ahg…..hari ini diatas kasurku yang acak-acakan gue lega banget untuk memulai hari kuliah gue dengan penuh senyuman. Tangan gue tarik kekanan dan kekiri untuk meregangkan otot-otot gue yang tersiksa selama ini, gue regangkan pula kepala gue, patahkan kiri patahkan kanan, tengok kiri tengok kanan. Anjreeet…jam tujuh kurang lima belas menit, serentak kedua kaki gue melompat dari kasur cari handuk, kekamar mandi, kali ini gue melanggar sebuah lagu sakral..bangun tidur keterus mandi..dst….kali ini hanya sikat gigi doank yang gue kerjakan, selanjutnya gue loncat sana loncat sini, cari baju, cari buku, cari uang dalam saku baju gue yang entah ada dimana, gue lupa sama sekali, ah…pusing uang nggak ketemu masuk kuliah bentar lagi, tinggal empat menit lagi. Sementara tangan kanan gue kayak bergerak sendiri mengambil sesuatu yang berbentuk boneka kayu or wayang ‘semar’ lalu melemparkannya, sementara itu juga mata gue berbalik dari hal itu karena tak tega dan sedih, sebab baru aja dua minggu gue mulai gue udah ngancurin lagi, ya itulah celengan gue, alias bank simpan pinjam gue, simpan gope pinjam goceng, makanya saat gue ancurin tuh celengan isinya hanya lima belas ribu rupiah. Itu pun baru 2 hari yang lalu gue masukin, karena tuh uang sisa belanja-belanja keperluan Ospek. 
“mah…aku pergi, Assalamualaikum”
Tanpa gue sadar ibu dan bapak gue udah pada pergi mencari nafkah untuk anak-anaknya, ya untuk gue sich sebenernya, gue emang empat bersaudara, yang paling besar udah nikah jadi lepas gitu tanggung jawab untuk membiayai lagi, kakak gue yang kedua kelayapan melulu tapi nggak pernah minta duit, itu baiknya, tapi sayang jarang pulang, oleh sebab itu, ibu ama bapak gue sering dibikin pusing olehnya karena sering juga ia pulang dengan keadaan mabok, padahal keluarga gue anti banget ama yang namanya minuman keras, rokok aja bapak gue nggak pernah pegang, ya maklum gini-gini juga gue sekeluarga itu… lumayanlah nggak jauh dari agama gitu, buktinya adalah adik gue yang terkecil ibu masukin kepesantren, jadi menjengukpun hanya sebulan sekali. Intinya adalah sekarang ibu bapak gue sedang kelabakan cari uang, Ibu tak bosan-bosannya menagih uang kontrakan yang selalu telat dan susah bayarnya, walau hanya empat kamar, sedang bapak gue jaga toko di ujung jalan. 
Tanpa sarapan gue langsung pergi, kuselah motor gue, motor multi fungsi gue, MultiFungsi (buat motor gue) adalah nganterin ibu gue kepasar, nganterin pesanan pelanggan toko atau ngambil pesanan toko gue dan buat gue berangkat kuliah. Motor MF gue belum hidup juga sampai gue baca Bismillah..akhirnya hidup juga, emang nich motor kayaknya hanya pengen dinaikin ama orang-orang Shaleh. Gue jalan keluar gerbang kecil rumah gue, gue belok kiri lalu berhenti sejenak, sebelum gue ngomong for pamitan ibu gue udah ngeduluin ngomong. Alhamdulillah…ibu gue tahu apa yang anaknya butuhkan. 
“kamu, Punya uang nggak??”
Sebenernya pertanyaan itu nggak pengen gue jawab, karena sebenernya gue malu, umur gue yang udah segini gedenya masih minta uang sama orang tua, tapi namun apa daya gue belum punya penghasilan, ya iya lah.. kerja aja belum punya, tapi setelah gue pikir-pikir gue kan nggak pernah minta buat jajan atau ongkos bensin gue, karena selalu ibu atau bapak gue yang nawarin untuk nerima uang. Itupun karena motor gue yang MF alias Multifungsi itu. Jadi pertanyaan itu nggak gue jawab, tapi..tangan gue menjelur dengan otomatis. Gue langsung pergi karena ternyata jam ditangan gue sudah menunjukan jam tujuh lewat tujuh menit. Aduuuuh.. telat….
“saya berangkat mah, Assalamualaikum..”
“Wa‘alaikumussalam, hati-hati”
Ngeng….gue kebut motor gue 20 Km / jam, emang ngebut ya..bukan itu hanya suara knalpot gue yang ribut, padahal sich jalannya pelan. Ibu gue pun suka ngomong untuk mengganti knalpotnya karena gandeng abiz..alias ribut.. ibu gue aja suka tutup telinga saat dibonceng ama gue pake motor ini.
Akhirnya gue udah nyampe dikampus tarik gas sedikit lagi tiba di fakultas gue, beberapa langkah lagi tiba dijurusan gue, dua belas langkah lagi gue tiba dikelas pertama gue. Gue tarik nafas, dada gue naik turun untuk menghilangkan rasa cape gue. Kali ini tangan kanan gue lah yang akan menentukan masa depan gue, karena tangan ini yang akan menentukan gue masuk kuliah atau tidak. Ternyata tangan gue mendukung banget ama gue untuk masuk kuliah, tangan gue langsung bergerak kepintu, menyentuh pintu itu dengan penuh perasaan. 
“tok..tok..tok..Assalamualaikum”
Gue ucapkan salam ampe tiga kali, akhirnya ada juga yang membuka pintu seorang Dosen membuka pintu itu
“Assalamualaikum, maaf Pak boleh saya masuk’
Dosen itu melotot dan berkata dengan tegasnya
“silahkan, duduk yang rapih dan cepat”
Gue langsung duduk sementara sang dosen masih memperkenalkan dirinya, dan semua mahasiswa sedang menulis namanya untuk menyatakan kehadirannya di kertas yang telah tersedia, tapi ternyata ada yang aneh, karena teman-teman gue yang gue kenal saat ospek sama sekali nggak ada, satupun nggak ada yang gue kenal, kini giliran gue untuk menulis nama gue, mengisi daftar hadir itu. Pulpen warna hitam yang gue pegang sebentar lagi akan menuliskan sejarah bagi gue, karena ini kali pertama gue mencatat nama gue di lingkungan Mahasiswa, pulpen gue sudah kena pada kertas itu tapi mata gue jalan-jalan melihat nama-nama yang sudah tertera dikertas itu, dimulai dari nama yang berada dibawah sampai gue ikuti semua nama sampai nama yang tertera pada number pertama alias paling atas, tapi tunggu dulu tangan gue yang tadi baru menulis beberapa huruf langsung terhenti, ada yang aneh di atas No 1 itu ada beberapa buah tulisan yang menyatakan sesuatu, yang menyatakan bahwa gue harus pergi dari kelas ini. Tulisan itu…adalah sebagai berikut; 


Presensi mahasiswa 2006
Jurusan Ilmu Komunikasi
Mata Kuliah Komunikasi 
Silahkan isi kehadiran dibawah ini

Astaghfirullah, gue salah man, otak gue secara otomatis lagi mencari akal supaya gue bisa keluar dari kelas ini, mana dosen yang gue lihat kayaknya Killer, bingung euy.., ah…gue udah dapet ide meski malu-maluin, ah maju terus pantang mundur. sebab gue orang, bukan undur-udur. 
Gue maju dengan perlahan sementara itu mata si Killer sedang menatap gue dari kejauhan, walau bibirnya sedang menjelaskan sesuatu 
“ maaf pak, boleh minta izin kebelakang”
Si Killer itu masih menatap gue dengan mata sangarnya
Gue pegang perut gue dengan mendramatisir kemulesan, yang sebenernya isinya adalah tas gue 
Sang dosen terus melihat perut gue
“nggak kuat Pak”
Yeah..gue keluar juga dari sorotan mata itu. Gue lihat jam udah nunjukin jam delapan lebih, gue putusin untuk nggak masuk kuliah pertama, paling juga perkenalan seperti yang dilakukan si dosen Killer itu. 
Hari-hari berikutnya gue lancar-lancar aja, karena gue termasuk orang yang disiplin dan penuh tanggung jawab, siapa dulu GUE (hey…jangan sombong…tugas kuliah gimana??), anjreet..sorry ya untuk yang satu itu gue sedikit nggak disiplin dan tidak penuh tanggung jawab. Bener man, waktu gue SMA nggak gini-gini amat, ya tugas maksud gue, sampai gue dibikin nangis gara-gara tugas gue yang numpuk, seminggu makalah yang gue harus ciptakan ampir 8, gila kan belum duit abis, dari dosen yang terbaik ampe yang terkiller tugasnya sama aja. Dasaaarrr..tidak berprikemahasiswaan, dan sebenarnya mereka juga telah melanggar prikedosenan. 
Semester demi semester telah gue lalui, tepatnya baru dua semester, gue lancar aja melalui hal itu semua bagai pergantian siang menjadi malam, lancar aja tuh. Karena gue termasuk orang yang selalu hadir dalam perkuliahan, IP gue pun cukup untuk memuaskan senyuman Ibu gue. Sebenernya sih Ibu gue nggak ngerti dengan IP karena Ibu gue tuh SMP aja belum nyentuh, sama ama Bapak gue, makannya mereka sibuk berwiraswata.
Kali ini gue udah jadi senior, gue udah jadi panitia Ospek, sekarang ditangan gue udah ada neraka dan kuburan, atau dalam mulut gue sudah terisi penuh sayur ASEM. Gue beri mereka sayur itu, eh..eh.. kok kayak ada yang kenal, oh iya itu adik kelas gue saat SMP, sayur asem gue udah ilang saat itu, saatt gue lihat dia, gue tanyakan kabar dan gue pasang senyuman yang lebar untuk mantan adik kelas gue itu.
“hey..jurusan ini juga, gimana kabarmu dan…”
Kalo gue lihat dia gue teringat sobatnya yang juga mantan gue, mantan presiden, ya bukanlah mantan pacar gue
Gue pun menjadi lebih akrab dengan dia, oh iya namanya Fina, sedang mantan gue namanya Sintya, tiap gue ngobrol ama Fina yang gue omongin pasti tentang Sintya. Sudah dua bulan ngobrol or talk-talk, baru kali ini dia memberi kabar buruk buat gue, ia bilang Sintya udah nikah, gue bilang ”kapan nikahnya?” Fina bilang”sebenernya sih udah lama, dari sebelum ujian SMA”, gue bilang “kok bisa”, Fina jawab” ya, dia diem-diem nikahnya”. Spontan kepala gue tertunduk, ya sebenernya sih gue masih cinta ama dia, karena dia tuh cinta pertama gue, malah gue ama Sintya tuh pernah ngomongin tentang anak yang akan dia lahirkan ya gue ayahnya gitu. Spontan Fina nanya ama gue ”kenapa, sedih ya..” eh iya kenapa dengan gue ”nggak gue bahagia dan gue tunduk itu..sedang mendoakan dia”. Setelah obrolan itu Fina ngajak gue buat nengok dia, gue mau aja karena dulu waktu SMP pun gue udah akrab ama keluarganya. 
Gue udah tiba di rumah Sintya, gue inget banget rumah ini, ketika gue nyamper Sintya jam 9 malam dan pulang-pulang jam 12 malam, dengan melewati kebun gelap dipinggir rumahnya, kalo inget ngeri sih tapi itulah pengorbanan.
Ibunya datang dan membuka pintu, Ia spontan “eh..masuk-masuk”Ia pun langsung manggil si wanita yang kawin muda itu, “Sintya..”, dari kejauhan gue mendengar suaranya yang masih gue kenal” ya mah..”, “ni ada tamu” . Ia pun menghampiri kami berdua, gue spontan menatap matanya, Iapun menatap mata gue, seakan-akan kami berdua ada sesuatu yang mengikat, gue lihat matanya masih seperti yang dulu, penuh perhatian dan kasih sayang, gue inget Ia selalu membenarkan rambut gue yang selalu acak-acakan abis gue main bola. Ah..gue suka sedih kalo inget hal itu, sebab hal itu nggak bakalan terulang lagi. Gue jabat tangannya, hangatnya masih mengalir murni. Tiba-tiba seseorang datang dari balik pintu, spontan Sintya melepaskan jabatan itu, dan Ia langsung berbicara dan memperkenalkan seseorang itu. Gue sadar saat itu gue harus berperan menjadi seseorang yang bijaksana dan penuh kebahagiaan. 
“kenalkan Suamiku Wendy”
“hai, selamat ya atas pernikahan sekalian, aku turut bahagia dengan kabar yang kudengar”
Sebenarnya kata-kata itu bodoh bgt, sebab nikahnya kan udah lama, sudah sekitar 1 ½ tahunan
Mulai saat itu gue pun sering datang ke rumah Sintya, dibalik tujuan gue yang masih menyimpan rasa ama dia dan karena saat ini gue udah menjalin persahabatan yang erat dengan si Wendy itu. Karena gue dan dia itu sama-sama kuliah, hanya beda Universitas, sekarang dia ini semester akhir, ya sedang nyusun skipsi, sedang gue semester enam, jadi masih jauh. Persahabatan kami sangat amat baik, gue sering makan malam dirumahnya, tentunya bersama Sintya, sebenarnya Ia belum tahu kisah gue ama Sintya dulu. Gue nggak bisa konsen tiap makan malam dengan mereka, karena tatapan gue selalu pada Sintya. Sehingga tak jarang si Wendy sering merasa aneh dengan kita berdua. Ah..gue nggak peduli nyatanya gue baik-baik aja dengan Wendy. 
Lama sudah persahabatan yang gue jalin dengan si Wendy, dia orangnya bener-bener baik n Smart (gue bisa juga bahasa inggris). Gue dan dia sering bertukar cerita, tapi ngak gue ceritain soal gue dan Sintya, yang diceritain seringnya sih soal cewe, tiba-tiba gue spontan nanya sesuatu ama dia, sebenarnya sih gue hanya bercanda, tapi dia jawab denga serius.
“ha..ha..eh..Wen, kenapa belum rencana punya anak”
Disela-sela tawa kami, Ia langsung berhenti tertawa dan spontan lang nunduk perlahan
“sebenernya, gue…, MANDUL”
“ha..”
Ini bukan ketawa tapi kaget kecil-kecilan
“iya, beberapa bulan lalu gue dah periksa ke dokter”
“Sintya tahu hal itu??”
“belum sih”
“baguslah lebih baik loe cari cara dulu untuk menyembuhkannya, dan.. terus berusaha’
Sebernya kata yang terakhir itu nggak pengen gue ucapin
Wendy pun mencari pengobatan dimana-mana, gue yang nganter dia keman-mana, cape sih, karena gue nggak pernah ngurusin hal yang begituan. Walau otak Wendy yang pinter itu tetep aja di beri mandul nggak bisa ngobatin. 
Abis gue dan Wendi beredar mencari pengobatan Alternatif yang gue berdua kunjungi, gue pulang kerumah Wendy, ya rumah Sintya juga, biasa gue makan malam dirumah itu lagi, kali ini tatapan gue sedikit berbeda, gue kasihan ama Sintya karena sampai kapanpun Ia nggak bisa ngelahirin, cewe yang gue sayangi nggak bakalan punya keturunan yang akan mewarisi kecantikannya, padahal gue berharap banget seorang gadis cantik akan lahir darinya, karena gadis itu akan menjadi pengingat gue disaat gue tua. Gue tatap pula Wendy seorang pemuda yang tampan, tapi tampanan gue sedikit, Wendy pun pintar, Ia juga tabah menghadapi cobaan yang Ia terima, Ia terus berusaha menghadapi cobaan itu, gue amat bersimpati dengan perjuangannya itu. Dan gue bersumpah untuk selalu menjadi sahabat dekat Wendy dan menemani dia untuk menyembuhkan penyakitnya itu, gue tak henti-henti berdo’a untuk mereka berdua, ya kecuali saat gue dikamar mandi, tidur, kuliah di kelas, maen PS, dan ngobrol bareng temen kuliah gue, ya maksud gue, sering (oh..bukan), kadang-kadang (masih kurang tepat), ya..pernah lah gue mendo’akan mereka (itu baru benar), tapi gue bener-bener salut ama Wendy yang tabah dengan semua itu, tapi tabahan gue dong yang melihat perempuan yang dicintainya hidup bersama lelaki lain. 
Esok hari usai kuliah, gue dan Wendy janjian di suatu tempat, kita berdua mencari lagi pengobatan Alternatif. Cara penyembuhan dari tiap pengobatan alternative berbeda-beda, ada yang pake listrik, gue nggak kebayang masa itunya si Wendy di sengat listrik, ada yang pake telur, ada yang pake batu, ada yang pake jarum, anjreet..gue nggak mau ngebayangin lagi, ampe yang teraman pake do’a doang, itu semua gue dapatkan dari hasil wawancara gue kepada yang terhormat saudara Wendy seusai pengobatan. Saat gue udar-ider alias beredar mencari penyembuhan, Fina juga sering kerumah Sintya, namanya cewe pasti curhat, sebenarnya Sintya juga masih menyimpan rasa sayang ama gue. 
Sementara itu karena gue juga sering ngobrol ama Fina, akhirnya kabar yang Ia dapat tentang Sintya, Ia kabarkan pula kepadaku, aku sangat terharu, dengan semua itu (gila gue, bahasa gue rapih amat). Gue sebenarnya udah sadar dengan semua itu, karena gue juga masih menyayangi Sintya. Tapi gue nggak mau ngerebut istri orang, ya iya lah orang masa istri jin, maksud gue istri Wendy. 
Sampai hari wisuda tiba, penyakit Wendi belum juga terobati, gue sedih banget melihat raut wajahnya. Nilainya kumlod, akan tapi raut wajahnya BL (Belum Lengkap) kebahagiaannya. Padahal saat itu yang datang pada saat Ia wisuda banyak sekali selain keluarga dia dan Sintya, Gue dan Fina pun menyertainya. Sampai diakhir acara raut wajahnya masih penuh dengan sayur ledech alias bibirnya masih jebleh, sedih yang gue nggak tahu sebabnya, tapi saat itu Fina juga ngajak gue pulang duluan, sebenernya gue juga mau kabur karena melihat Sintya dan seluruh keluarga yang bahagia di hari itu. O.k. lah gue pulang tapi Fina nggak pamitan karena Ia lari, saat gue sedang berpikir untuk pulang atau tidak. Gue pamitan dan menyusul Fina. Saat itu Fina terduduk dekat motor yang gue parkir, Ia mulai tertunduk dan bicara sama gue.
“maafkan, saya..”
“kenapa kamu, emang ada apa?”
“maafkan saya..”
“Iya saya maafin, tapi ceritakan ada apa”
“ maaf, saya menceritakan semuanya”
“maksud kamu”
“iya saya menceritakan tentang kamu dan Sintya, Ia tahu bahwa kamu dan Sintya masih saling mencintai”
“kamu…”
“Maafkan saya”
“ya sudahlah..”
Ya begitulah, akhirnya Wendy tahu bahwa istrinya adalah Cinta pertama gue, gue bingung apa yang harus gue lakukan. Beberapa hari gue nggak ke rumah Wendy, abiz bingung, bingung abiz, bingungnya kehabisan, tapi beberapa saat kemudian, gue nerima SMS dari dia, yang isinya “weuy, kmn ja km, ksni man, syukuran gue lulus, n makan2, cepat ok.”. gue bener-bener bingung, tapi gue pikir Wendy pun bisa bersikap baik, masa gue nggak bisa. Akhirnya gue putuskan untuk datang dengan seribu niat baik, gue ajak Fina, n Ia pun setuju untuk nemenin gue menghadiri undangan itu. 
Ternyata acara itu bukannya, syukuran lulus tetapi juga syukuran bahwa dia mendapat beasiswa melanjutkan kuliah S2 di Amerika, kabar itu membuat gue bangga banget ama dia. Acara itu bener-bener membuat kami yang hadir bahagia. Selesai acara, suasana rumah sudah sepi, kami berempat berbincang-bincang ditaman, kita berempat bener-bener dalam keadaan bahagia banget. Tapi beberapa saat kemudia Wendy berbicara aneh.
“Sintya, ..”
Ia memegang pundak gue, dan memegang tangan Sintya
Gue merasa aneh, seakan-akan gue berdua akan dijodohkan
“Sintya, aku sudah tahu kisah kalian, aku mengerti apa yang ada dalam hati kalian, bahagialah, dan kamu jaga Sintya..”
“maksud mas..Sintya nggak ngerti”
“Sintya, Mas mandul, mas nggak bisa memberimu keturunan dan minggu depan mas harus berangkat ke Amerika selama tiga tahun, mas nggak bisa menjaga kamu, dan mas mempunyai cita-cita dan itu penting untuk banyak orang, mas akan belajar tentang ilmu kedokteran”
Mungkin si Wendy pengen mencari obat untuk menyembuhkan penyakit mandul
“tapi Wen..aku nggak..”
“sudahlah, aku tahu kau juga masih mencintai Istriku, maksudku Sintya”
Sementara itu Fina beranjak pergi 
“Fin..”spontan gue panggil
“biar saja..”Wendy melanjutkan pembicaraannya
Sementara itu tangan gue dan Sintya telah dipertemukan dan sebenarnya gue nggak pengen ngelepasin, tapi gue berusaha ngelepasin tapi tetep nggak bisa karena Wendy memegang tangan kami berdua dengan erat.
“semua hal telah ku urus, surat perceraian dan yang lainya telah ku atur, kalian tinggal melaksanakan pernikahan”
“tapi mas orang tua mas dan orang tua ku”
“itupun sudah mas atur, mereka memang sedih tapi mereka menerima, karena orang yang menggantikan mas,
mereka pun setuju”
Gue pura-pura nggak ngerti dengan omongan si Wendy tapi dibalik itu gue bahagia banget
Begitulah selanjutnya, gue pulang kerumah dan membawa kabar ini, kabar bahwa gue akan menikahi Sintya, tapi apa kata bapak dan mak gue ya..
“mah..pak, boleh aku nikah?”
Spontan bapak gue batuk saat Ia minum segelas kopi panas malam itu, karena malam itu bapak sedang nonton bola dan mak gue selalu setia nemenin bapak gue nonton
“apa, kamu tadi bilang apa”
“nikah”
Spontan setelah batuknya reda bapak gue ketawa
“ha..ha..ha..hi…bu, tuh minta dinikahin, ama siapa?”
Ibu gue juga hanya tersenyum, kemudian ia bertanya dengan lembut
“siapa memang gadis, yang memdapat cowo ganteng anak mamah?”
Astagfirullah, gue disebut ganteng bagi gue muka ganteng gue adalah cobaan dari Allah SWT, tidak boleh sombong dan takabur
“Sintya mah, anaknya bu Mimin”
“Sintya..sintya, oh mamah inget, gadis kecil yang di kuncir itu”
“ya mamah, itukan dulu, SMP, sekarangkan dia juga udah gede”
bapak gue hanya terus tertawa, karena mendengar cewe dikuncir itu yang akan gue nikahi spontan bapak gue berhenti ketawa
“baiklah, kapan kau akan melamarnya? pokonya bapak dukung deh”
“bener pak, Lusa pak”
Kemudian pada zaman itu, maksud gue akhirnya gue melamar Sintya, sementara itu Wendy juga ada disana menyaksikan kami, serta saat pernikahan kami, Wendy setia menjadi saksi pernikahan kami, walaupun itu disela-sela waktunya, karena hari pernikahan kami adalah hari keberangkatan Wendy ke Amerika. Setelah akad gue dan Sintya mengantar Wendy ke bandara. “Thanks you Wendy”, gue bicara begitu karena dia akan berangkat ke luar negeri.
“oh ya….Nama gue Rama”



sebagiannya adalah the true story...hehehe kebanyakan ngawurrrrrRrRrrr

Puisi dan Sajak

Tersenyumlah…
dengan hangatnya matahari dipagi hari
dengan sinar bulan dalam gelapnya malam 
aku masih bisa menemukan bayanganmu 
dalam kepandaian mata mengimajinasikan senyummu
aku memiliki bintang yang hadir di hatiku
bintang dari timur 
yang menghadirkan gerimis hujan terhangat
keajaibannya menyebar pada putih gurun salju
tersenyumlah
senyuman itu yang membuat semua itu nyata
tanpa engkau sadari 
aku luluhpun karena itu
hadir dan bersanding denganku
harapan seribu lelaki yang harus jadi milikku
karena itu dan karena semua yang ada didirimu
aku menginginkanmu..
tersenyumlah 
aku menginginkan itu..
Bandung, 30 Ramadhan 1428 H/ 12 Okt 07


Dan Bahwa Engkau…
ketika tasbih kuputarkan padanya
pada Tuhan yang menciptakan cinta
kumohonkan bidadari mendampingiku
hingga kutemukan engkau dalam keseharianku
Tuhan memilihkan pagi tercerah dihatiku
sebab aku memiliki 
sebab do’aku terkabul dengan keindahan
akan kucari ruang tempat diammu
lalu kututurkan bahwa engkau do’aku
dan bahwa engkau bidadari itu
dan bahwa engkau pagi tercerah itu
pegang tanganku 
bahwa engkau hatiku
sebab tak mampu mencinta 
bila tanpa hatiku disampingku

Bandung, 30 Ramadhan 1428 H/12 Okt 07


Biar Kuhidup Dengan Nafasku
biar aku hidup dengan nafasku 
walau sisa helakannya masih sedikit lagi
terimakasih engkau membawa separuh dari darahku
tak usah kau rautkan wajahmu 
biar hanya bersamamu kebahagiaan itu
nadiku pun ikut tersenyum bila disana kau tersenyum
sampai normal detakan jam ditangan
sampai semua udara mengalirkan madu
kekasihku lanjutkan sulamanmu yang indah
pada lembaran kain yang ada dihadapanmu
biar aku hidup dengan nafasku 
rautkan wajahmu hanya untuk mentari yang sedang datang padamu
karena sebentar lagi akan terbit bulan sabit
sebentar lagi khayangan menyaksikanmu
duduk berdiri pada lamunanmu


Bandung, 1 syawal 1428 H/ 13 Okt 07


Hanya Untukmu Hanya Untuk Bersama

kuingin memeluk tubuhmu 
rengkuhkan hati mencintamu 
dzikirkan pandangimu
beritakan pada yang lain bahwa aku 
ingin memeluk bibirmu 
bersama burung kepakan sayap putihnya
bersama senja aku tersenyum menantimu
berada disisiku berada di sampingku
berdua hanya untuk bersama

13 mei 2008 










Dan Aku Sangat 
seandainya
pengetahuan itu ikut membahas 
tentang seseorang dan perasaan
tentang bumi bersandar malam 
dan aku sangat memikirkan 
dan aku sangat memegang jemarimu
dan bila sangat karena itu 
sepercik cahaya terang ada
kekhilafan-kekhilafan ini
membantu menjelaskan hati 
dan bila sangat karena itu 
dan mungkin semua itu 
dan, 
aku , sangat
mencintaimu, 

19 mei 2008

Langkah-Langkah

21 november 2005, aku memegang tongkat berdiriku
1 maret 2006, langkahku yang pertama
Terdiam
Aku tertegun berdo’a
Berharap bersua diujung kebahagiaan
Ditengah sayup-sayup dzikir
Berhias keikhlasan
Kembali do’aku pada kekosongan nafsu
Do’a yang membawa haru dahaga
Mencari dimana ada
Secercah jalan menujunya
Dan sedang menari
Ku gores sebuah titik 
Di 1 mei 2006
yang mungkin jadi sajak roman
bergambar udara niagara
kukembalikan pada Illahi
seluruh kesangsian perasaan
kembali pada arus sungai
berjejal batu-batu rapuh
sampai pada terjunan air
mencipta keindahan dari kesabaran
satu detik terjatuh
ragaku bersayap kupu-kupu 
menuai musim dari keikhlasan
kukembalikan pada Illahi 
penggenggam nurani yang sangsi

selamanya_......!!



Kereta kahuripan

Pintu ujung kereta 
Berhelakan rambut
Saat bertemu dengan udara malam itu
Menyusup pada remang kegelapan
Mesin gemuruh kereta
Berdaur dengan angin 
Lahirkan cerita untuk pulang
Perasaan ingin membawa bahagiaku
Pada remang kursi panjang
Tapi kerelaan untuk bahagiaku 
Jangan dihitung mundur
Keberangkatan saat itu
Besi-besi pembangunan
Sedang berdiri
Sambutan atas goyangan bumi
Banyak cerpen-cerpen kecil
Belum tersusun
Sebuah pena sedang menyusunnya
Rentetan besi menyeret angin yang berair
Sang pena tak mampu melanjutkan
Eugh......eugh....agh....
Gigi saling bersentuhan

Perjalanan kereta kahuripan
18-08-2006




Sandiwara

Aku rindukan dia dengan pura-pura
Pura-pura untuk dia
Aku bodoh di pura-pura
Penuh sandiwara 

Tanimulya,19 juni 2006





Alat Hidup

Berjuang
Memperbaiki cerita
Sabar
Keikhlasan
Alat-alat dalam bengkel hidup

Tanimulya,19 juni 2006





Aku Seperti

Aku seperti lalat
Aku seperti beruang
Aku seperti badut 
Aku juga gubuk pantai
Aku ini pantai
Aku ingin seperti kupu-kupu

Tanimulya,19 juni 2006


RS

Aku sedang terbaring di tempat tidur rumah sakit
Kurasakan pandangan udara menajam
Telinga kanan dan kiriku
Tak henti mendengar dengkuran para pembesuk
Saat sakit 
Banyak bercerita
Sama hal di rumah sendiri 
Hanya obat pembedanya
Dan seragam suster-suster 
berjalan-jalan


RS MAL, 29 juli 2006




Tempat bercerita

Hari-hari ditempat berbaringku
Tempat rindu, resah, kecewa dan malu
Antara kehidupan dan kebekuan
Hari ini kebekuan datang
Ditengah langkah
Aku merindukan dia
Dengan segala kebodohan raga
Memori sebuah jalan hidup
Mengayuh perahu kecil
Pada danau dipuncak gunung
Disela kayuhan ku kupandang mataHARI
Biar tetap kumencari bulan
Biar Rama tetap mencari Shinta
Mencari persembunyian Rahwana
Dengan radar buatan rusia atau amerika
Panahku terbuat dari air
Itu air mata
Terukir dipanah pusaka cerita
Bidadari berselimut nyiur hijau
Seperti seorang dewi dan putri
Menjadikan kemarau bersalju
Menjadikan dunia bertabuh pesona
Ditempat tidur bidadari aku terbaring
Aku banyak bercerita disini
Untuk bidadari

Cimahi,19 juni 2006



Awal di jogja

Satu dari awal menuju pencarian
Lampu kuning masih menyorot
Sisa lalulalang orang-orang senja
Bermuliakan udara
Bertemankan roda-roda
Diatas aspal tersisa embun
Tersentak aku diperjalanan
Sisa kantuk kemarin menyayat mata
Lesu lelah menengok mata
Welcome to the jogja


Agustus 2006




KeEsaanMu

Terduduk
Berhadap rumah maha agung
Menggigil diraut kerinduan
Langit bercerita kehangatan
rumahMu pesona berelok
Tak sadar langit mulai lelah menopang bintang
Planet manusia mulai kedinginan
Nyiur hijau bergoyang berontak
izinkan ku bersujud walau kakiku sedang lumpuh
Astagfirullah 


UPI Alfurqan,13 agustus 2006



Kerisian
Ada rahasia berjalan pada kepala
Roti kering terlempar haru
Loncat-loncat
Bermuka pucat
Dahi kering tengadah pada rumput
Mata menyayat ubin tanah liat
‘Jurig teh ngaganggu bae’

Ditulis di HP ku




Radang kelicikan

Tumbuh jamur-jamur pembusuk mulut
Pada kemarau hutan hujan
Bukan diatas 5000 Km
Ternyata berhadap mata
Saat dia terpanggang kuteduhi
Hingga balik punggung merasa gosong
Hanya tentang masalah dunia
Cinta dan Harta
Radang-radang kelicikan 
Terasa tak bisa terelakan
Demi empedu perasa 
Sudah 1000 X berhelakan nafas


Bandung, 26 agustus 2006



Dari kerinduan

Kadang terasa takut ku arungi hidup
Aku seolah sedang mencari sesuatu 
Menyakinkan 
Memusatkan bayangan
Menuai awal dari cerita
Senandung menghembus madu
Bersalju halus 
berSulam mata 
kepakan udara 
berdaur keringat
panas dingin keadaan
rindu tercipta dari kekosongan


bandung, 27 agustus 2006




Kerenungan 


Lampu merah itu kelap-kelip
radar itu berputar-putar
kipas itu berangin dingin
jeruji besi terpegang
lengan berurat
kini berdiri di bola dunia
gelap
malam itu tidak berbintang
hanya lampu rumah-rumah yang menaungi
tapi hati diatas gunung
di puncak radar 
memegang senjata abadiku
aku abadi pada busur panahku
aku belum jadi kupu-kupu indah
masih bersayap bulat
tanpa benang yang terpentang
lontarkan raga
pindahkan bunga duri





Mungkin dan Kemungkinan

Mungil suara angin
Menyapa ruang dari perasaan
Tempatku merangkai rindu
Diantara hari-hari
Kusulam pula cerita 
Di bambu kuning tempo dulu
Sehingga runcing
Menancap saat tanganku terkepal
Di angin mungil itu
Bias-bias tawa dan bahagia
Lahirkan resah tak terkira
Tak ingin beranjak di ikatan sepatuku
Aku bergegas menyusun cerita hari itu
Bukan karena lelah aku terpejam
Atau kantuk yang kemarin
Menemui bahagiaku
Kelap-kelip disebrang jendela
Buat jari-jari menjadi kuat
Takkan melepaskan, Keyakinan si ibu jari
Berpikir 500 X bahagia itu untukku
Namun lewati dulu resah itu
Aku cemburu pada mimpi kemarin
Berhitung dari tawa ke kedipan mata
Dan nada bicara terengah-engah
Moga kebahagiaan menjadi kalut
Lalu menjadi sejatiku
Mungkin dan kemungkinan
Diantara gerakannya, menyelipkan ragu
Mungkin dan kemungkinan
Namun yakin, keyakinanku pada si ibu jari 100%
Namun mungkin dan kemungkinan
Cimahi,7 juli 2006

Persembahkan Khayangan

Menetes embun diujung pangkal retinaku
Berbias hening warna pelangi
Kayuhan roda-roda diujung sendi
Langkahmu ada disana
Dipersembahan 
khayangan tertinggi
do’a berpujikan Tuhan semesta alam
lamunan-lamunan kecil menunggu keikhlasan
raut wajah paksakan berubah
tengadah bersama awan 
dipersembahan khayangan
duduk diatas kursi terindah
cercahan-cercahan berlian 
menggeliat dibaju panjang
kursi khayangan itu

Bandung, 30 agustus 2006







Aku sudah berpikir
Yang tidak terpikir oleh telanjang mata
Dari rongga dalam sukma
Bergetar ketika kurayu Tuhan
Kaca-kaca pada mata berhias ketekunan
Ku bersemedi meminta pengharapan
Harap-harap berdoa sayu
Mungkin menuju keteguhan hidup
Berdiri di atas kepalan tangan
Melihat awan berselimut kebimbangan

Masih ditulis di Hp




Awan Langit

aku menangis
ketika bersemi musim
berhijaukan daun terbang
berdahagakan lautan luas
kurindukan sebuah penciptaan sinar
jadi milik kebahagiaan
jadi secercah kehausan
langit
bergumpal 
putih gumpalan
berair mata tentang seseorang
awan langit

Bandung, 26 desember 2006


1ndonesia 2006

Tanah
Laut
Tanah laut tidak berbeda
Laut tanah bersama satu
Laut kaki berpijak
Tanah laut tempat tertidur
Masih ada hujan pasir 
turun kejalan raya mobil hitam 
ada suka cita terkubur
atau mengakhiri kesusahan si miskin
ludahan-ludahan tumpukan tanah
membuat desa bersungai abu
yang duduk yang berjanji
yang berdiri yang bersorak
para calon sarjana 
percuma
2006 rentetan angka berjumlah besar
Rangkaian cerita yang terpanjang 
1ndonesia 2006
Banyak-banyak kejadian untuk diukirkan
Menjadi batu nisan
Dan engkau harus memakai baju hitam 

Bandung, 28 januari 2007




Usia ayah

Usianya 60 lebih 
Hampir sama dengan negaranya
60 lebih
Hanya negara sedang mengembang
Orang tuaku merengkuh
Malam hari pak pijat teman akrabnya
Itupun panggilan sang anak 
suruhan setia ibunya
basah kepala sang anak memangil pak pijat
dikala hujan
berbaring pada selembar alas dingin
dan sebuah bantal yang sudah tipis ditumpangi
rasa sakitnya membuat ibu memegang 
tangan ayah
“lemaskan badanmu agar tak sakit”
Pak pijat bersuara kesal
Umurnya tak sanggup melemaskan 
Seluruh tubuhnya 
Badan kecilnya terbiasa keras
Terbiasa menelan panas 
Berdirinya rengkuh
Menatapnya sayu
Makananya halus berair
Minumnya segelas susu murni ‘seharusnya’
Saran dokter yang pernah didatangi
Esoknya 
Sarapannya tetap satu matahari pengap
Belum ada cerah
Cerahnya hanya istirahat di kursi panjang 
Tengah rumah
Tanggungannya masih ada 4 lagi
Anak yang kedua 
Yang ke tiga
Yang ke empat 
Dan sebuah pikulan tempat letihnya
Umurnya 
dan umurnya menua

Bandung 29 januari 2007






Riwayat Bapak,....

Bapak memulai cerita
Beralaskan sarung kusut di pinggulnya
Bertemankan nasehat-nasehat
Senda gurau sebuah keluarga
Bapak memulai cerita
Bapak 
seumur anaknya yang kedua
18 tahun 
Ia pernah kepulau sebrang
Ke tengah hutan
Memetik bahan bangunan 
2 minggu ia kabur
Karena kesunyian hutan
Dan kerinduan yang memuncak
Bapak 
Ia pernah bekerja di perusahaan kereta api
Namanya...
Oh ya, PJKA
Setahun dia disana
Pernah menjadi cleaning service 
dan menggantikan guru 
untuk mengajar disebuah sekolah dasar
beberapa tahun ia disana
ditawari pula
untuk bekerja di sebuah sekolah luar biasa 
tuna netra
namun semua hal itu 
ia tinggalkan 
dengan berbagai alasan
teman bapak sejak kecil
teman yang selalu dibantunya
kini telah menjadi seorang pejabat
disebuah daerah
bapak 
tetap seperti dulu
mencari nafkah 
mendapatkan yang secukupnya
jerih payah
tak tergantikan
oleh beberapa anaknya yang masih tegap
yang tegap 
yang harus berpikir

ruang kuliah UPI, 5 maret 2007



11 september 2010

menatap ia dalam sebuah cerita
ia mencari scene
membuat episode berbeda
takkan pernah lelah melangkahkan kaki
ia mimpi namun ia pantang ditangisi
lalu ia awan namun pantang ia mendung]
hingga ia adalah hujan
dan langkahnya adalah sejuk di ketandusan




09 oktober 2010

Ia mungkin.

kamu mgkn tak kenal dengan benderang langit
atau niagara yang berkabut sejuk
sampai bertemu, mungkin angin akan menjadi tali
mengikat senyum kamu, hingga tak pergi jauh
tetap menghibur
tetap hangat
dan tetap cantik dengan uraian rambutmu...