Kapan BAYIku Lahir...?
Karya : Muhammad Ramlan Afrizal
Dibuat : Juni 2008
PARA PEMAIN :
1. KAKEK/ PAK AHMAD : Kuli Angkut Barang Stasiun/60 Thn
2. NENEK : Jasa Pencuci Pakaian / 55 Thn
3. MBA YAYU : Tukang Jamu / 30 Thn
4. MAFIA 1 : Pengedar Narkoba Dan Uang Palsu/ 28 Thn
5. MAFIA 2 : Pengedar Narkoba Dan Uang Palsu/ 26 Thn
6. POLISI 1 : Perwira Polisi / 40 Thn
7. POLISI 2 : Asisten Perwira Polisi / 25 Thn
8. BIDAN : BIDAN Komplek / 35 Thn
SINOPSIS
Kisah ini merupakan sebuah drama ber setting ruang tamu dan kamar tidur. Suami istri yang sudah lanjut usia. Diusia yang setengah abad sang istri baru bisa mengandung setelah perkawinan itu berumur 33 tahun. Semua orang pun memanggilnya NENEK dan KAKEK. sepasang suami istri yang baru pertamakali bahagia Karena kehamilan sang istri ditengah usia yang renta. KAKEK seorang kuli angkut pernah dititipi tas hitam oleh dua orang distasiun. Satu orangdiantaranya, mengambil tas itu setelah beberapa hari di rumah si KAKEK. Namun setelah itu polisi datang dan menangkap si KAKEK karena dituduh bersekongkol, dengan dua orang yang menitipkan tas hitam itu, dan ternyata dua orang hitam itu adalah MAFIA pengedar narkoba dan uang palsu. Ditengah keributan itu, si NENEK pun ribut karena dia akan melahikan sang BAYI dengan batuan BIDAN. Si KAKEK dibawa keluar oleh POLISI dan si NENEK melahirkan tanpa si KAKEK. Padahal si KAKEK menunggu kelahiran si BAYI.
BABAK I
LAMPU MULAI MENYALA PADA KAMAR TIDUR
(RUANG TAMU BELUM MENYALA)
PEMAIN : KAKEK DAN NENEK
Dikamar sepasang suami istri tua renta sedang menikmati masa bahiagianya, sang suami asik mengelus perut sang Istri
KAKEK :
NEK, sepertinya impian kita selama ini sebentar lagi bisa terkabul. Oh, Tuhan rupanya kali ini mendengar do’aku, sepertinya aku memang harus serius dengan semua do’a ku yang kupanjatkan pada-Nya
NENEK :
(masih diam karena sedang membaca Al-Qur’an)
KAKEK :
NEK..kamu nggak dengar omonganku ya..
NENEK :
dengar, iya makanya kamu jangan berdo’a untuk kemenangan togel yang sering kau pasang itu. Kali ini kau harusnya sering-sering dimesjid, kamu shalat lalu berdo’a untuk kelahirannya nanti.
KAKEK:
Ah, aku kan sudah berhenti memasang togel itu semenjak usia kandunganmu delapan bulan alias satu bulan yang lalu.
NENEK :
Mungkin itu hikmah dari taubatmu..(lalu Ia melanjutkan bacaannya)
KAKEK :
Hikmah, mungkin saja, iya itu hikmah, artinya aku termasuk orang yang dikasihani oleh Tuhan. Oh…(berteriak bahagia)
NENEK:
Sstt… kan aku sedang menidurkan dia dengan ini (sambil menunjukan Al Qur’an nya)
KAKEK :
Ups maaf... tidur yah..jagooo..
NENEK masih melanjutkan bacaannya, beberapa saat kemudian dalam bacaannya sesekali Ia batuk
KAKEK :
sudah aku bilang agar kamu jangan terlalu capek dirumah, apalagi kamu harus banyak memcuci pakaian orang, biar aku saja yang mencari uang. Oh ya satu lagi mulai besok akan kuhentikan kegiatan mencucimu itu.
NENEK :
kau kan tahu sendiri KEK, mana cukup uang hasil buruh angkutmu. Tak setiap hari kan kau membawa uang, kau tahu sendiri hal itu. lagi pula sedikit sekali orang yang turun di stasiun ini. Kecuali orang-orang kampung sini yang pulang pergi. Dan kau hanya menunggu penumpang kereta yang barang bawaannya banyak, kalau tak banyak..
KAKEK :
(memotong) ya nggak bawa uang…, sudah seratus kali lebih kau berkata seperti itu, dan aku hafal yang akan kau ucapkan selanjutnya, pasti kau bilang bahwa aku harus..
NENEK :
(memotong) cari kerjaan baru.... apa kau tak bosan jadi kuli angkut stasiun?sudah bertaun-taun kau jadi kuli dan punggungmu sudah di buat bungkuk oleh pekerjaanmu itu. lalu tas yang kau bawa dari stasiun itu pemiliknya belum mengambilnya juga, apa tas itu aman, kita nggak tahu apa isinya. Sebaiknya kau periksa dulu sana..
KAKEK :
Aku memang tidak tahu dan aku tak pernah membuka barang yang bukan hak ku sendiri. Begini juga, aku adalah orang yang proseksual..
NENEK :
Profesional maksudmu..
KAKEK :
Iya maksudku itu.. aku belum pernah membuka hak orang lain, aku tak peduli dengan isi ya situ yang penting jika orang itu mengmbilnya ia harus membayar OIT alias Ongkos Inap Tas. Tapi aku juga bingung, orang itu menitipkan padaku lalu dia pergi begitu saja, mau ku kejar orang itu, dia malah lari kencang bagi dikejar anjing saja, (tersenyum)kau tahu sendiri umurku ini, kalau dua puluh tahun kebelakang aku berani adu lari dengan si Yadi atlit lari anak pak lurah itu.
NENEK :
alah kau itu banyak di kata sedikit diperbuatan. sudah aku mau menyelesaikan bacaanku tinggal sedikit lagi.
Keduanya terlihat sangat romantis, KAKEK berbaring tepat disamping perut NENEK, tak henti ia mengelus perut NENEK.
KAKEK :
illahilas tulilfirdaus..si ah..la...wala aqwa alannarri jahimi.. eh jago liat tuh Ibumu, dia itu pencuci pakain orang, ibumu itu seorang pengusaha... pengusaha...londri..ya itu. Tanpa ibumu, semua orang dikampung ini akan terkena penyakit kotor. Beginilah keadaannya, daerah masih kampung tapi warganya sudah berpikir kota, inginnya serba praktis sepertinya tangan mereka digunakan hanya untuk makan dan cebok saja. Hey JAGO, kalau sudah besar kamu harus memiliki perusahaan londri terbesar dikampung kita, bukan, di negara kita, bukan-bukan-bukan, di duniaaa... Dengan pusat londri laut selatan.
NENEK :
(tersenyum) sepertinya bapakmu ini sudah gila (melanjutkan bacaannya)
KAKEK :
stt...jangan berisik sepertinya dia sudah tidur. Ya kan YAYU. Ups ..
NENEK :
YAYU, YAYU, sudah aku bilang kau harus jauh-jauh dari siYAYU pedagang jamu itu. (si NENEK berhenti membaca Al-Qur’an lalu mneyimpannya di meja dekat kasur lalu menyingkirkan si KAKEK dan menutup dirinya dengan selimut)
KAKEK :
ya..ya..yah…maksud aku…(diam sejenak, NENEK menutup dirinya dengan selimut)sudah malam ya mending kita tidur saja..(KAKEK memeluk NENEK, tapi NENEK malah berbalik)
LAMPU PADAM
BABAK II
LAMPU RUANG TAMU MENYALA
(LAMPU KAMAR TIDUR PADAM)
PEMAIN : KAKEK, NENEK, MBA YAYU, BIDAN, MAFIA 1, MAFIA 2, POLISI 1, Dan POLISI 2
Hari masih pagi, suara kokokan ayam dan kicauan burung terdengar jelas lalu terdengar seorang tukang jamu menawarkan dagangannya
OS YAYU :
jamu…. Jamu,,,,, yu huuu..Jamu…SERBU, serba dua ribu..jamu..
KAKEK :
(keluar dari pintu kamar) si YAYU…
OS YAYU :
yu huu..SERBU serba dua ribu.. tanpa bahan pengawet dan formalin
KAKEK :
(mengintip dari jendela lalu memanggil MBA YAYU seperti berbisik)MBA, MBA YAYU sini, cepat..masuk tapi jangan terlalu dalam ya..
MBA YAYU :
disuruh masuk tapi jangan kedalam..
KAKEK :
Eu..bagian dalam baru di pel jadi masih basah (memperhatikan tubuh si MBA YAYU)
MBA YAYU :
(sambil mempersiapkan jamu) oh.. ya sudah ini jamunya, STMJ kan.
KAKEK :
(mengambil jamu itu)kau tau saja kesukaanku, Susu-tekan, (diam sejenak) maksudku susu-telor-madu dan jahe. Bener nih.. tanpa bahan pengawet dan formalin(MBA YAYU hanya menganggukan kepalanya dan mengacungkan jempol. KAKEK meminum jamu itu dengan sekali teguk) ahh...hangat...dibadan (menggoyangkan badan), segerrr..
OS NENEK:
(dari dapur) KEK.. KEK... kau dimana
KAKEK :
(membereskan botol-botol jamu) iya NEK..sebentar. makasih ya MBA, sepertinya ada yang harus aku urus dulu (seperti berbisik), nanti kita sambung lagi. (KAKEK membereskan botol-botol jamu lalu memasukannya dengan cepat, lalu MBA YAYU pergi dengan didorong si KAKEK)
OS NENEK :
KEK..
KAKEK :
sebentar. (hampir menutup pintu NENEK keluar dari pintu dapur) jangan lupa Pak johar nanti malam kita bagian ronda, bawa kacang goreng yang banyak ya...
NENEK :
siapa?kok..
KAKEK :
(memotong)itu..pak Johar mau nyuci baju katanya, kubilang saja bahwa istriku sekarang ini tidak menerima cucian.
NENEK :
sepagi ini?
KAKEK :
iya (gugup) kenapa sepagi ini pak Johar datang..
NENEK :
iya kenapa (curiga)?
KAKEK :
iya, oh katanya siang ini pakaiannya mau dipakai lagi. Jadi dia datang sepagi ini
NENEK :
(melihat keluar jendela) oh, itu...
KAKEK :
(ikut melihat keluar jendela) iya itu plastik sampah sudah penuh.. biar kubuang dulu.
NENEK :
dasar kau pintar mengelak, maksudku itutuh... si YAYU, tukang jamu yang genit itu.. (sambil menjewer telinga si KAKEK, lalu pergi kedapur ) sekarang bantu aku mengangkat nasi.
OS KAKEK :
aw..panas..
OS NENEK:
makanya hati-hati, pakai lap...nah begitu..
OS KAKEK:
wah kau masak banyak sekali
OS NENEK:
banyak bagaimana, Cuma tempe goreng 4 biji, tahu 2 biji, ikan asin 1 ekor lalu sambel dan yang banyak itu daun singkongnya siabrek..
OS KAKEK:
maksudku kan banyak jenisnya. (sambil makan dan kepanasan)
OS NENEK:
makannya pelan-pelan
MAFIA 1:
permisi.. permisi (mengetuk pintu)
OS KAKEK:
sebentar...(nasi masih dimulutnya, keluar masih mengelap tangan lalu membuka pintu) anda... anda... hitam.. (menunjuk pada mafia 1)
MAFIA 1:
(melihat kulit tangannya lalu menatap si KAKEK dengan sinis)maksud mu?
KAKEK :
bukan-bukan maksudku.. itu.. tas hitam(sedikit berteriak). Anda yang menitipkan tas itu kan. Mana satu lagi teman anda?
MAFIA 1:
betul, sekarang kembalikan tasnya (seperti mengancam), dan jangan banyak tanya (sambil melihat kanan-kiri)
KAKEK :
(bingung) sebentar-sebentar, tas, tas dimana ya (mencari dengan pikiran, lalu tangannya diacungkan seperti dapat sesuatu) oh iya dikamar.
MAFIA 1 :
kalo begitu cepat ambil, lama amat kamu mikir
KAKEK :
iya.. iya.. (berjalan menuju kamar) cerewet amat, cerewetnya mengalahkan istri ku tuh. (keluar lagi membawa tas itu)nah ini kan tasnya (mengacungkan tas)
MAFIA 1 :
iya-iya itu (tersenyum, lalu dengan segera hampir merebut tas itu)
KAKEK :
tunggu dulu.. disini sudah lima hari, lima hari kali biaya per harinya lima ribu jadi lima kali lima ribu... jadi...jadi..jadi bingung...
MAFIA 1:
(merogoh uang dan memotong pembicaraan si KAKEK) iya ni..
(menyerahkan uang ratusan ribu)
KAKEK :
hah..(kaget memegang uang banyak, lalu menghitungnya pelan-pelan) ini uang tuan?
MAFIA 1:
(membuka tas dan mengintip isi didalamnya)mana-mana.. nah masih ada
KAKEK :
masih komlit, bahkan aku belum pernah membukanya..
MAFIA 1:
bagus kalau begitu, ok. Saya pergi dulu, senang berbisnis dengan anda (bersalaman)
KAKEK :
oh..tentu saja aku pun sangat senang sekali berbisnis dengan anda, lain kali anda boleh titip apapun disini. Tentunya dengan tarif disesuaikan. (lalu menutup pintu dan mengulang menghitung uang) NEK... kau bisa melahirkan si jago di BIDAN, jangan panggil dukun beranak atau sejenisnya. Akan kupangilkan BIDAN terbaik komplek sebelah.
NENEK :
(keluar dari dapur)ada apa?siapa yang tadi? Nampaknya kau senang betul!(lalu curiga melihat keluar jendela)
KAKEK :
bukan, bukan si YAYU, kali ini yang datang si pemberi rizki..
NENEK :
Hus, yang memberi rizki itu TUHAN
KAKEK :
ya maksudku TUHAN telah menitipkan rizki kepada yang menitipkan padaku
NENEK :
gimana maksudmu, perkataanmu itu memutar-mutar, menitipkan-dititipkan, maksudmu ada yang bayar Zakat, bilang bukan disini tempat bayar Zakat, disana tu, di Mesjid atau l;angsung ke rumah Ustadz.
KAKEK :
Eh.. malah nyambung ke Zakat. maksudku, orang yang menitipkan tas padaku datang dan memberiku uang (sambil menunjukan uang) lihat segini banyaknya..
NENEK :
wah..OIT nya banyak sekali..
KAKEK:
OIT...(menerawang)oh ya..ya, Ongkos Inap Tas
NENEK :
kau harus membeli mesin cuci ke kota, perbaiki atap dapur dan kamar, sehingga saat kau tidur, hujan tak menembus dan mengganggu tidurmu
KAKEK :
tunggu dulu sebentar... kau kan sebentar lagi melahirkan, kita urus dulu itu.. baru setelah itu kita pikirkan yang lain. Jadi biar kupanggil BIDAN sekarang
NENEK :
hehh..kau mau memaksaku agar anakmu keluar belum saatnya
KAKEK :
tapi kan kandunganmu itu sudah berumur sembilan bulan.
NENEK :
iya tapi kan aku belum merasakan apa-apa.
KAKEK :
ah ribet amat.. aku sudah tak tahan lagi NEK.. jadi kapan BAYIku itu akan keluar dari perutmu, hey JAGO kapan kau akan lahir..(menunjuk pada perut NENEK)
NENEK :
Sabar dong ne.. (tiba-tiba merasakan sesuatu) nah..nah.. sakit sekali aduh duh..(memegang perut dan memegang si KAKEK)
KAKEK :
nah BAYI itu mendengarkanku, ini pasti hikmah lagi dari Tuhan lagi karena aku tak membuka tas yang bukan hak ku. tenang JAGO, BIDAN segera datang untukmu..(berbicara pada perut NENEK, lalu hendak pergi keluar rumah)
NENEK :
tunggu dulu, bawa aku kedalam kamar dulu
KAKEK :
oh iya, sampai lupa, mari ku bawa kau ke kamar istriku..
LAMPU KAMAR MULAI DINYALAKAN
NENEK :
aduh.. sakit...sekali..cepat kamu panggil BIDAN yang kamu bicarakan itu.
KAKEK :
baik-baik, (keluar dengan berlari, keluar pintu dari kejauhan dia lihat MBA YAYU)MBA ...kesini sebentar cepat..
MBA YAYU:
ono opo to? Sepertinya buru-buru amat..
KAKEK :
tolong jaga istriku kelihatannya dia mau mengeluarkan, maksudku melahirkan, tolong ya (lalu pergi dan memanggil ojek)
MBA YAYU:
lha KEK aku kan sedang berjualan, gimana ini..
NENEK :
aduh... cepat BIDAN nya
MBA YAYU:
aduh. Tenang NEK
NENEK :
NENEK-NENEK emang saya NENEK mu
MBA YAYU:
lebih baik NENEK tenang dulu, sebentar lagi BIDANnya juga datang. Sekarang NENEK tarik nafas…
NENEK :
kamu itu gimana, ya sudah tentu aku akan menarik nafas, kalau aku tidak bernafas aku akan mati…
MBA YAYU:
aku juga dulu pernah melahirkan NEK, dan maksudku NENEK harus mengatur nafas agar ngedennya nggak terlalu berat.
NENEK :
ya sudah, ulangi lagi..
MBA YAYU:
tarik nafas.. keluarkan pelan – pelan... bagus... (mengendus seperti mencium sesuatu) NEK, NENEK kentut ya..
NENEK :
sedikit habis nggak tahan... aduh .. aduhh. Ah... aaah... huuuhh..huhhh..
MBA YAYU:
aduh jangan dulu keluar, aku bingung kalau BAYI NENEK keluar sekarang.. oh ya, air kita butuh air.. air..air dimana airnya NEK
NENEK :
aduuuhh…ya di kamar mandi, kalau air panas, di dapur.
MBA YAYU:
ya sudah NENEK tunggu dulu, aku ambilkan air panas dulu..
NENEK :
huuuuhhh..huhhh.. cepetttt... (lalau MBA Keluar dari kamar menuju dapur)
MBA YAYU:
(masuk kekamar sambil membawa termos)
NENEK :
aaa... kamu mau menyiramku dengan termos itu ya..
MBA YAYU:
oh iya, aku lupa tempatnya..(lalu kembali kedapur membawa termos)
POLISI 1:
permisi.. permisi.. (mengetuk dengan keras sementara itu si NENEK berteriak dengan keras pula, POLISI lalu masuk dan mengacungkan pistolnya) jangan bergerak (MBA YAYU yang baru keluar dari dapur langsung ditodong POLISI, air panas yang dibawa memakai wadah jatuh mengenai kakinya)
MBA YAYU:
aduuuhh... panas..
POLISI 2:
kamu juga jangan bergerak, diam ditempat (berbicara pada MAFIA 2)
NENEK :
aduuuhh... siapa diluar …
POLISI 1:
jangan bergerak.. (langsung masuk ke kamar)
NENEK :
ah... (terkejut karena ada laki-laki masuk kamar)
MBA YAYU:
dia sedang melahirkan pak.. sebaiknya bapak keluar dari kamar itu..
POLISI 1:
astagfirullah.. maaf, maaf, silahkan anda melanjutkan pekerjaan anda
MBA YAYU:
Baik baik pak..
POLISI 2:
bagaimana ini, kenapa kita malah jadi penjaga orang yang melahirkan begini.. heh.. betul kamu ingat bahwa kamu menitipkan tas itu kepada orang yang bernama AHMAD
MAPIA 2:
be..be..betul, be..berapa ha..ri yang lalu a..aku mengeceknya..dan. daan ini adalah.. rumahnya..
NENEK :
sebaiknya kau tanya mau apa POLISI itu datang kemari?
MBA YAYU:
aku takut NEK... tadi aku ditodong pistolnya..
NENEK :
cepat kau tanya.. aku tak bisa konsentrasi melahirkan kalau masih ada POLISI- POLISI itu
MBA YAYU:
baik-baik.. aduhh bagaimana ini (keluar dari kamar, lalu berlari menuju dapur dan sedikit mengintip)
POLISI 2:
jangan takut nona, kami tak akan berbuat apa-apa sama kamu, kami hanya ingin menanyakan sesuatu.
MBA YAYU:
silahkan tanya saja dan setelah itu cepat pergi.. (ketakutan)
POLISI 1 :
baiklah.
PILISI 1 dan 2:
dimana... (bareng)
POLISI 2:
ya sudah bapak saja yang menanyakan
POLISI 1:
bagus sadar pangkat.. begini nona kami kesini mencari orang yang bernama AHMAD, apa betul ini rumahnya?
MBA YAYU:
AHMAD.. (lalu dia pergi ke kamar) NEK, dia mencari AHMAD.. apa NENEK tahu?
NENEK :
AHMAD itu, suamiku, orang yang kalian kenal si KAKEK itu.
MBA YAYU:
oh si KAKEK (keluar dari kamar)
POLISI 2 :
bagaimana nona (menatap POLISI 1) maaf, silahkan lanjutkan pak.
POLISI 1:
bagaimana nona betul ini rumah bapak AHMAD?
MBA YAYU:
betul pak, namun tadi ia keluar, sedang memanggil BIDAN katanya, sebentar lagi mungkin dia akan datang
KAKEK :
(langsung membuka pintu membawa BIDAN) ayo bu BIDAN cepat masuk.. istriku dikamar..
MBA YAYU:
nah akhirnya datang juga..
POLISI 1:
jangan bergerak..
KAKEK :
(tersungkur dan tiaraf) ampun.. ampun ada apa ini? MBA kenapa banyak POLISI begini?
BIDAN :
ada apa ini pak?
POLISI 2:
bu BIDAN silahkan langsung ke kamar saja, tugas bu BIDAN ada disana..
POLISI 1:
(memeriksa seluruh badan si KAKEK) apa ini dalam saku? Uang! (mengambil lalu menaruhnya di atas meja)
KAKEK :
ada apa ini?
MBA YAYU:
nggak tahu KEK, sebaiknya aku pergi dulu (MBA YAYU lalu pergi membawa barang bawaannya)
POLISI 2:
hey benar dia orang nya? (menunjuk pada si KAKEK)
MAFIA 2:
i..iya pak betul.. orang itu yang aku..
POLISI 2:
ah sudah cukup..
KAKEK :
hey, kamu.. kamu orang yang menitipkan tas hitam itu padaku iya kan.
POLISI 1:
ternyata benar anda bersekongkol dengan para pengedar Narkoba dan pengedar uang palsu.
KAKEK :
aku tak tahu maksud bapak-bapak POLISI ini. Hey item, ada apa ini, sebenarnya apa isi tas yang kau titipkan padaku itu.
POLISI 1:
isi tas itu sudah kubilang Narkoba dan yang kami tangkap ini adalah pengedar Narkoba dan uang palsu
KAKEK :
aduuh..kenapa jadi begini.. jadi gimana ini
POLISI 1:
sekarang mana tas itu?
KAKEK :
tas itu sudah diambil oleh orang satu lagi.
POLISI 1 :
sekarang kemana dia?
KAKEK :
aku kira dia itu teman si hitam ini, tanyakan saja padannya.. aku betul-betul tidak mengerti kenapa aku harus ikut-ikutan
POLISI 1:
tentu saja anda harus terlibat, Uang ini saya temukan di dalam saku baju anda, dan ini adalah uang palsu, jadi anda dituduh membantu para MAFIA ini menyembunyikan Narkoba dan mengedarkan uang palsu.
KAKEK :
jadi uang sebanyak itu, adalah uang palsu.. aduuh..bagaimana aku membayar BIDAN itu..
NENEK :
aduuh..ah...
KAKEK :
tunggu dulu pak, istriku akan melahirkan, sebaiknya berikan kesempatan padaku untuk berada disamping istriku yang sedang melahirkan.
POLISI 1:
tidak ada waktu lagi, kami harus mengejar MAFIA satu lagi..
KAKEK :
saya mohon, ini kali pertama istriku mau melahirkan.
NENEK :
aduh.. KEK...
BIDAN :
sebaiknya anda cepat kesini dan membantu istri anda melahirkan (menunjuk si KAKEK)
POLISI 1:
tidak bisa dia harus tetap ikut kami, hey ajudan kamu saja yang membantunya melahirkan
BIDAN:
tidak bisa pak dia kan bukan suaminya (lalu masuk kembali)
POLISI 2:
iya saya tak bisa pak, siapa yang akan menjaga si item ini. Kalau saya menjaga orang yang sedang melahirkan, lagi pula aku belum berpengalaman menjaga orang yang melahirkan. Lagi pula aku belum beristri. Lebih baik aku menjaga penjara saja pak.
POLISI 1:
ya sudah lebih baik kita cepat pergi, takut kalau-kalau MAFIA satu lagi sudah kabur keluar negeri.
KAKEK :
aduh, aku betul-betul tak bersalah pak, aku hanya petugas pengangkut barang bawaan orang, alias kuli angkut stasiun. Setidaknya berikan kesempatan padaku untuk bisa menunggu sampai BAYI ku lahir, aku benar-benar menunggu kelahiran itu... bagaimana aku tahu kapan BAYI ku lahir kalau aku pergi dan tidak ada dirumah.
POLISI 1:
ayo cepat ikut, kita pergi dari sini.. dan setelah dimobil cepat minta bantuan ke pusat..(bicara pada POLISI 2)
POLISI 2:
siap laksanakan pak. (mereka pun keluar)
KAKEK :
aduh... NEK.. jago... bagaimana ini.. (lalu keluar, tidak berapa lama setelah itu lahirlah BAYI yanmg ditunggu-tunggu)
BIDAN :
Alhamdulillah…
LAMPU PADAM
BABAK III
LAMPU MULAI MENYALA
PEMAIN : KAKEK dan NENEK
KAKEK :
NEK..NEK…kau dimana.. aku pulang NEK..
NENEK:
KAKEK.. aku dikamar.. (dengan suara tangisan BAYI)
KAKEK:
akhirnya BAYIku.. kapan BAYIku lahir..
NENEK :
ya kemarin, kau kemana saja? Tega, kau biarkan aku sendirian ngeden dengan tagihan biaya melahirkan pada BIDAN yang kau bawa itu. Dan sekarang tinggal kau bayar tagihan BIDAN itu.
KAKEK:
oh ganteng sekali mirip seperti bapaknya
NENEK:
mirip bagaimana, hidungmu itu besar sedang dia kecil, alismu tebal sedang dia tipis, dan yang paling mencolok dia itu putih sedang kau, hitam..
KAKEK:
ya setidaknya dia mirip manusia, seperti ku.
NENEK:
sialan kau, berarti kau sebut aku bukan manusia begitu..
KAKEK:
sst..st..sepertinya dia sedang tidur..
NENEK:
panggil dia JAGO.. biasanya kau memanggilnya begitu..
KAKEK:
oh iya.. JAGO.. kau tidur yang nyenyak yach.. (KAKEK mulai sedih) NEk.. makasih yah.. kau telah mewujudkan impian ku selama ini, aku benar-benar bahagia.(diam sejenak) maafkan aku selama ini NEK, telah menyusahkanmu, kau harus mencuci pakaian untuk memenuhi sebagian kebutuhan kita. Terimakasih ya NEK.. dan aku mohon maafkan segala kesalahanku..
NENEK:
sudahlah jangan kau seperti anak kecil begitu, tidak kah kau malu, pada si JAGO mu ini.
KAKEK:
aku janji mulai besok, aku akan mencari pekerjaan baru. Seminggu yang lalu pak johar menawariku pekerjaan. Semoga saja pekerjaan itu masih ada, dan kau jangan mencuci pakaian orang lain lagi.
NENEK:
iya, aku juga minta maaf, karena seminggu yang lalu aku masih menerima cucian orang lain, sehingga kau yang mencucinya.
KAKEK:
sudahlah, aku ingin menidurimu..
NENEK:
hah.. aku kan baru melahirkan, jadi anu, aku masih..(lalu mereka berdua tertawa... )
KAKEK :
oh iya, aku lupa... ya sudah mari kita tidur saja. aku ingin sekali tidur disebelah si JAGO ini. (masih tertawa.) Akhirnya kau lahir juga JAGO.. ( si JAGO menangis)
LAMPU PADAM
SELESAI
Bagi yang mau mementaskan naskah ini
harap untuk menghubungi penulis terlebih dahulu
Cp : teater LAKON UPI Jln. SetiaBudhi No. 229 BANDUNG
www.kamuspelangi.blogspotcom
email : www.ramlan_afrizal@yahoo.co.id
Ket :
a) Setting : 1 ruang tamu, 1 kamar, dan pintu kedapur, dinding sudah tembok
1. Ruang tamu: 1kursi panjang, 2 kursi biasa, 1 meja semua dari kayu dan menghadap penonton. Dinding di isi hiasan. Ada gantungan baju
2. kamar tidur : 1 kasur, meja disampin kasur, dan damar di dinding kamar.
b) Lampu : 2 bagian, 1 ke kamar tidur dan 1 ke ruang tamu
Selasa, 19 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar